STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS

STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS:
SEKAR RARE MEOANG-MEONG

Levi-Strauss merupakan seorang yang ahli bidang antropologi dengan perhatian yang khusus pada mitos. Mitos menurutnya merupakan suatu kontradiktif , dimana segala macam relasi dimungkinkan dari sebuah obyek. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan budaya terhadap anggota masyarakat.
Dalam teori struktural Levi-Strauss yang lebih banyak dipengaruhi oleh Ferdinand de Saussure tentang simbol serta mengadopsi pemikiran dari Jakobson tentang fenomena. Dia menjelaskan bahwa strukturalisme merupakan sebuah epistemologi baru dalam beberapa ilmu sosial budaya seperti, sosiologi, sastra dan filsafat serta memandang kebudayaan sebagai suatu sistem simbolik yang berkaitan dengan fenomena budaya.
Menganalisis fenomena budaya dibedakan menjadi dua macam yaitu struktur luar (surface structure) dan struktur dalam (deep structure). Saya akan menganalisis fenomena dari sudut pandang bahasa, dimana Levi-Strauss dalam kajiannya juga mempergunakan bahasa sebagai model untuk menganalisis budaya. Dia menganggap bahwa bahasa sebagai suatu gejala atau kondisi fenomena khas yang memiliki posisi khusus dalam masyarakat (Ahimsa: 2001, 24). Pendapat dari Levi-Strauss tersebut didukung oleh perspektif Durkheim yang menyatakan bahwa interkasi yang dilakukan oleh masyarakat akan menimbulkan berbagai masalah seperti adat-istiadat, tradisi dan berbagai macam kaidah yang dalam perspektif tertentu merupakan entitasnya tersendiri (Widada: 2006, 14). Levi-Strauss dan Durkheim secara jelas menyatakan bahwa melalui bahasalah kita mengenal suatu kebudayaan. Hal tersebut diatas akan dikaitkan dengan sebuah nyanyian anak-anak Bali atau gending rare yang berjudul Meong-Meong, dimana gending ini lahir dan berangkat dari ruang sosial masyarakat.
Sekar rare merupakan sebuah gending atau lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak Bali. Dalam epistemologi bahasa Bali, sekar berarti bunga, sedangkan rare berarti anak-anak, jadi sekar rare merupakan sebuah lagu anak-anak dimana dalam menyanyikannya harus seindah dan seharum bunga yang sedang mekar serta mengandung pesan-pesan yang mulia. Simbol bunga dalam masyarakat Bali tidaklah asing, bunga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang bersifat vertikal maupun horizontal. Sekar rare termasuk salah satu lagu anak-anak yang mempunyai pesan moral, baik itu buruk maupun baik.
Berikut ini adalah lirik Gending Rare yang berjudul Meong-meong.
Meong-meong alih je bikule,
Bikul gede-gede,
Bin mokoh-mokoh,
Kereng pesan ngerusuhin,
Juk meng, juk kul, Juk meng, juk kul, Juk meng, juk kul,

Terjemahan:
Kucing-kucing carilah tikusnya,
Tikus besar-besar,
Juga gendut-gendut,
Seringkali buat rusuh
Tangkap kucing, tangkap tikus, Tangkap kucing, tangkap tikus, Tangkap kucing, tangkap tikus,



Gending rare diatas merupakan struktur luar (surface structure). Jika dianalisis lagi dengan struktur dalam (deep structure) maka secara kasar kita akan menemukan pemaknaan yaitu meong/kucing dalam hal ini disimbolkan atau diibaratkan dengan aparat kepolisian, sedangkan bikul/tikus disimbolkan atau diibaratkan dengan para koruptor. Dimana lagu anak-anak ini menyimpan permasalahan yang ada didaerah atau bahkan negara tentang penyimpangan dana. Ekonomi yang tidak stabil serta meningakatnya jumlah kemiskinan membuat para seniman membuat lagu ini dengan menekankan pada situasi dalam bidang ekonomi pada saat itu.
Bukan itu saja, dalam lagu ini juga diterangkan tentang bagaimana peran aparat keamanan yaitu kepolisian menjalankan tugasnya untuk menangkap para koruptor yang menjadi “hama” dalam sebuah struktur pemerintahan daerah atau struktur pemerintahan negara. Namun, disini adanya paradoks dalam bait terakhir “Juk meng, juk kul, Juk meng, juk kul, Juk meng, juk kul “ yaitu apakah perseteruan antara kepolisian dengan para koruptor yang saling menjatuhkan dan menyalahkan atau memang benar bahwa dalam tubuh kepolisian terdapat juga pelanggaran hukum yang memaksa kepolisian untuk mencari “kambing hitam” dalam menutup kebenaran.
Asumsi ini bukan hanya dianalisis dari kata, simbol serta bahasa, namun juga bisa dilihat dari realita yang ada. Dimulai dari kasus para koruptor kelas kakap asal Indonesia seperti:
1.        Lutfi Hasaan Ishaaq yang pada saat itu menjabat sebagai presiden Partai Keadilan Sosial (PKS) yang terjerat kasus impor daging pada Kementrian Pertanian.
2.        Rudi Rubiandini, menjabaat sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Migas yang terjerat kasus suap dari Kernel Oil US$ 400 ribu.
3.        Ratu Atut Chosiyah, gubernur Banten ini terjerat kasus pengadaan alat kesehatan serta terkait penanganan sengketa pilkada Lebak, Banten.
4.        Miranda S. Goeltom, terjerat kasus suap cek pesawat nuat anggota DPR.
5.        Muhammad Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat yang terjerat kasus suap proyek Wisma atlet SEA Games.
Sedangkan dari pihak kepolisian juga terdapat kasus yang hampir serupa, bagaimana kondisi kelembagaan kepolisian juga terjerat kasus tentang korupsi atau mempunyai “rekening gendut” seperti:
1.        Komisaris Jendral Polisi Budi Gunawan diduga adanya transaksi tidak wajar.
2.        Inspektur Jendral Djoko Susilo yang terjerat kasus korupsi proyek simulator uji kemudi roda dua dan roda empat yang mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah.
3.        Jendral Polisi Rusdiharjo terbukti melakukan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta pemerasan.

4.        Komisi Jendral Susni Duadji diduga menerima sogokan sebersar 500 juta untuk mempercepat penyidikan kasus PT Salmah Arowana.

Komentar

Postingan Populer