AKULTURASI BUDAYA CHINA-HINDU
BARONG LANDUNG

Kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan penciptaan akal budi manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, semuanya itu adalah pengetahuan manusia guna memahami lingkungan serta pengalaman yang dijadikan pedoman tingkah lakunya yang bertujuan untuk kesejahtraan hidupnya. Pengertian kebudayaan termasuk tradisi, dan tradisi dapat diterjemahkan dengan pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tetapi tradisi tersebut bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah; tradisi justru dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Kebudayaan berkembang sesuai dengan peradabannya, sehingga nampak perbedaan kebudayaan diantara bangsa-bangsa di Dunia ini. Kebudayaan adalah esensi kehidupan bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupannya. Oleh karena itu masalah kebudayaan menjadi sangat menarik diteliti, terutama dalam era globalisasi yang telah merasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, social, budaya dan komunikasi. Salah satu bentuk kebudayaan adalah kesenian yang menyangkut prihal keindahan, sejarah, dan perkembangannya. Kesenian dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian salah satu diantaranya adalah seni tari. Tari adalah sebuah cabang kesenian yang paling konservatif dalam perkembangannya. Namun, perlu disikapi bahwa jaman globalisasi menuntut adanya persetaraan suatu perkembangan tari, akan tetapi hasilnya bersumber dari akar seni yang jelas. Menurut R.M Soedarsono seni tari merupakan ekspresi manusia yang diungkapkan melalui gerak anggota tubuh yang halus atau ritmis dan mengandung unsur seni. Namun dalam hal ini, adanya dua budaya yang saling tersinkronisasi mejadi sebuah kesenian yaitu Barong Landung.
Diceritakan, bertahun-tahun lamanya Sri Aji Jaya Pangus menikah dengan Kang Cing We belum juga di karuniai seorang anak. Ini membawa kesedihan yang amat mendalam bagi mereka berdua, kerajaan dan seluruh rakyat Kerajaan Balingkang sehingga keadaan kerajaan saat itu menjadi muram, dan sepi tanpa adanya upacara apapun di kerajaan tersebut. Tertekan dengan keadaan itu, Sri Aji Jaya Pangus memutuskan pergi meninggalkan Kang Cing We untuk bertapa di kaki gung batur guna mendapatkan pencerahan.
Kehadiran sang raja ternyata menarik hati seorang dewi yang menguasai daerah tersebut yaitu Dewi Danu, tiada lain merupakan Dewi Penunggu Danau Batur. Sang dewi mencoba menggoda dan akhirnya sang raja pun terbangun dari meditasinya. Raja yang sudah tergoda akan kecantikannya memutuskan untuk  menikasi Dewi Danu.
Sudah 4 tahun lamanya Kang Cing We menunggu kedatangan sang raja. Rasa penasaran pun datang, akhirnya permaisuri kerajaan Balingkang itu memutuskan untuk mencari sang raja yang sedang bertapa. Sampai kahirnya beliau tiba di hutan belantara dan bertemu dengan Kang Cing Wie. Datanglah Dewi Danu yang melihat kemesraan mereka berdua. Merasa kecewa dan sakit hati, Kang Cing We menyerang Dewi Danu yang telah merebut suaminya. Serangan tersebut mendapat respon negatif dari Dewi Danu, apalagi Sri Aji Jaya Pangus lebih memilih Kang Cing We. Melihat hal tersebut, Dewi Danu marah dan murka, Ia pun mengutuk pasangan tersebut menjadi patung atau yang lebih dikenal dalam masyarakat Bali yaitu Barong Landung, simbol pelindung, kemakmuran, ketentraman dan cinta sejati.
Begitulah sekilas mitos yang berada di Pura Puncak Penulisan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Mitologi kuna tradisional adalah cerita-cerita dengan bahasa yang indah dan isinya dianggap bertuah, berguna bagi kehidupan lahir bathin dan dipercayai oleh pendukungnya dari generasi ke generasi berikutnya. Biasanya menceritakan perihal/kejadian bumi, langit, nenek moyang manusia, dewa, dan upacara-upacara yang berhubungan dengan kepercayaan (Sri Mulyono, 1978:166).
Sejak saat itu, penghormatan terhadap Raja Jaya Pangus (Dalem Balingkang) dan Kang Tjin We dipusatkan di Pura Ulundanu. Penggunaan dupa, uang kepeng Tionghoa, hingga budidaya Lychee dikenal di daerah dataran tinggi sekitar Gunung Batur itu. Kawasan itu juga menjadi pusat hunian awal warga Tionghoa di Bali.
Ida Bagus Putera Siwagatha, putra dari Ida Pedanda Manuaba, menjelaskan, sejumlah kampung di Kintamani memiliki toponimi yang berasal dari bahasa Mandarin. ”Contohnya Desa Pingan sebetulnya berasal dari kata Ping An yang berarti selamat. Desa Songan berasal dari kata Song An, Desa Siakin berasal dari kata Sia In, Desa Paketan berasal dari kata Paket An. Pemukim awal Tionghoa juga mendapat lahan bertani di Payangan dengan memberikan bibit lychee kepada salah seorang Raja Bali. Tradisi ngelawang, yakni mengelilingkan Barong Bali ke pintu-pintu rumah, juga mirip dengan tradisi Barongsai Tionghoa masuk ke rumah dan toko-toko,” kata Siwagatha.
Siwagatha menambahkan, berbagai jenis ukiran untuk mengiasi rumah dan perabot Bali juga banyak menerima dan menyerap pengaruh Tiongkok. Beragam pengaruh itu kini sudah dikenal luas sebagai budaya asli Pulau Bali. Bahkan, para pedagang Bali meyakini Kongco Cong Po Kong atau Ida Ratu Gede Ngurah Subandar di Kintamani adalah pelindung yang memberi berkah atas perniagaan mereka. Demikian pula pasangan Dewa-Dewi yang disebut Rambut Sedana yang dipercaya memberi berkah bagi keluarga, disusun dari uang kepeng Tionghoa. Kini, beberapa hari menjelang perayaan Sincia (Tahun Baru Tionghoa) di Pura Ulundanu Batur, warga peranakan Tionghoa Bali kembali berkumpul di tanah leluhur mereka: Kintamani, di jantung Pulau Bali.
Seluruh masyarakat Batur dan Balingkang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi rasa sedih yang mendalam. Karena kecintaan mereka terhadap raja dan istrinya, mereka memohon kepada Batari Batur agar diijinkan untuk membuat pratima (patung sakral) sebagai tonggak peringatan kepada keduanya. Batari Batur menginjinkan permintaan itu bahkan menyarankan agar kedua pratima itu disemayamkan di Pura Batur sebagai lambang percintaan dan kesejahteraan masyarakat. Batari Batur menyadari bahwa ayah Kang Ching Wei mengajarkan masyarakat berdagang guna mencapai kesejahteraan hidup. Batari Batur menitahkan agar Kang Ching Wei dianugrahi gelar Ratu Subandar. Sebagai leluhur masyarakat Balingkang yang menggabungkan antara orang Bali dan Tiongkok, pratima itu disembah oleh komunitas Bali dan Tiongkok yang berada di kerajaan Balingkang.
Di samping diwujudkan ke dalam pratima, Batari Batur juga memerintahkan warga masyarakat membuat sebuah kelenteng di Pura Batur agar mereka yang datang menyembah memiliki tempat berteduh. Kelenteng tidak saja dibuat di Pura Batur, masyarakat pecinta Raja Jaya Pangus juga mendirikan kelenteng di Pura Balingkang yang kini disebut Gedong Mas. Dewasa ini hampir di siap pura Sad Kahyangan atau Kahyangan Jagat di Bali memiliki Ratu Subandar sebagai perlambang kesejahteraan masyarakat. Ratu Subandar juga menjadi ikon setiap pura melanting atau pura pasar di Bali. Untuk dapat menyebarkan secara lebih luas prinsip kesejahteraan ekonomi ke seluruh pelosok pulau Bali, masyarakat membuat tiruan kedua pratima di atas, berupa Raja Jaya Pangus dan Kang Ching Wei ke dalam wujud Barong Landung, laki dan perempuan. Barong Landung yang laki-laki dibuatnya menyerupai orang Bali Aga keturunan India, dan Barong Landong perempuan dibuatnya menyerupai wanita keturunan Tionghoa. Kedua Barong Landung yang berupa boneka besar, dibawa berkeliling desa-desa (ngelawang) untuk mengibarkan kesejahteraan masyarakat dan perkawinan antar bangsa menuju masyarakat multikultur. Multikultur kiranya tidak hanya diwakili oleh orang Bali Aga dan orang Tiongkok, tetapi perkawinan Jaya Pangus dan Kang  Ching Wei itu mungkin juga merupakan sinkritisme antara agama Hindu dan Buddha di Bali. Demikianlah sebuah legenda mengenai lahirnya Barong Landung di Bali yang sangat populer sebagai sastra lisan dan tema-tema kesenian Bali. Apabila disimak secara mendalam mengenai isi dari legenda di atas, memang pada kenyataannya di dalam sejarah Bali Kuno ada seorang raja yang bertahta di Balingkang bernama Jaya Pangus.



DAFTAR PUSTAKA

Conselo G. Sevilla. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta, Universitas Inodnesia.

Dibia, I Wayan, 1979, Sinopsis Tari Bali, Denpasar, Sabggar Tai Bali Waturenggong.

Djelantik. 2008. Estetika, Sebuah Pengantar. Jakarta, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).

Mantra, I.B, 1996, Landasan Kebudayaan Bali, Denpasar, Yayasan Dharma Sastra Denpasar.

Moeliono, Anton M. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Bahasa.

Nasution, S. 1988. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi, Makalah. Jakarta, Bumi Aksara.

Sarwa, I Nengah. 2011. Metode Penelitian. Denpasar, Institut Seni Indonesia (ISI).

Soedarsono. 1999. Metodelogi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).

Van Peursen, C.A, 1988,  Strategi Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta.


Wiranata, I Gede A.B. 2002. Antropologi Budaya. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Komentar

Postingan Populer