Bijak ke Kocak: Fenomena Terbentukan Pertunjukan Wayang Kulit Bali Masakini
Bijak ke
Kocak:
Fenomena
Terbentukan Pertunjukan Wayang Kulit Bali Masakini
Wayang adalah salah satu unsur kebudayaan Indonesia
yang mengandung nilai-nilai seni, pendidikan atau didaktis dan nilai
pengetahuan yang tinggi, dan benar-benar sangat berharga untuk dipelajari
dengan seksama sedalam-dalamnya. Wayang juga termasuk kedalam suatu pertunjukan
seni yang masih di sakralkan di Indonesia, khususnya pertunjukan wayang di
Bali. Pada hakekatnya, wayang merupakan
bayangan yang bersifat magis religius sebagai mitologi kuna tradisional.
Mitologi kuna tradisional adalah cerita-cerita
dengan bahasa yang indah dan isinya dianggap bertuah, berguna bagi kehidupan
lahir bathin dan dipercayai oleh pendukungnya dari generasi ke generasi
berikutnya. Biasanya menceritakan perihal/kejadian bumi, langit, nenek moyang
manusia, dewa, dan upacara-upacara yang berhubungan dengan kepercayaan (Sri
Mulyono, 1978:166).
Dalam pertunjukannya, wayang kulit menjadi medium
yang digunakan oleh dalang untuk berkreativitas. Dalang adalah orang yang yang
melakukan pertunjukan wayang yang dalam fungsinya menjadi produser, penyusun
naskah, juru cerita, sutradara, penyanyi dan juga memainkan wayang (Ketut Rota,
1978:25). Seorang dalang mampu menuangkan berbagai kreatifitas dengan berbagai
medium dan ucapan saat pertunjukan wayang kulit berlangsung.
Penulis menjadi seorang dalang sejak tahun 2007 atau
pada saat penulis berumur 16 tahun atau saat masih menjajaki sekolah menengah
pertma (SMP). Penulis pernah tampil dalam berbagai upacara dan events yang berkaitan dengan wayang.
Setelah lulus dari SMA, penulis melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia
(ISI) Denpasar jurusan seni pedalangan. Walalupun penulis menamatkan kuliah
dengan mempersembahkan karya, namun tetap peduli dan mengamati perkembangan
wayang kulit yang ada di Bali.
Pengalaman penulis ketika mengamati pertunjukan
wayang tradisi Bali yang dipertunjukan oleh dalang Sudiana dengan judul Gatotkaca Siu, yang menceritakan tentang
raksasa Ludramaya yang berhasil menculik Yudistira atau Darmawangsa namun dapat
diselamatkan oleh Gatotkaca seorang diri dengan menggunakan tipu muslihat
dengan merubah dirinya menjadi seribu. Dalam pertunjukan tersebut, beliau
menggunakan pakem pertunjukan wayang tradisi dengan teknis pertunjukan
konvensional. Pertunjukan tersebut tidak kalah menarik dengan pertunjukan
wayang inovatif yang sedang digandrungi di Bali sekarang. Penyajian beliau
sangat menarik ketika perdebatan hakekat nilai kebenaran dan filsafat
kehidupan, yang sekaligus menjadi introsfeksi bagi penonton. Sangat tepat
pertunjukan wayang sebagai media komunikatif dengan masyarakat, karena dapat
menyakjikan berbagai macam pengetahuan, fisafat hidup, ajaran agama, nasihat-nasihat, hiburan serta
penerangan-penerangan mengenai Keluarga Berencana (KB) (Ketut Rota, 1978: 15).
Pertunjukan wayang Sudiana sarat dengan kualitas, akan tetapi penonton tidak
begitu banyak menyaksikan pertunjukan tersebut, hanya penanggap dan warga
sekitar desa saja. Hal ini menunjukan bahwa minat masyarakat Bali sudah memudar
mengenai pertunjukan wayang tradisi, pada hal wayang merupakan pertunjukan yang
menuntut kemampuan komplit dari seorang dalang, sehingga dia dapat dikatakan
berkualitas.
Lain halnya dengan pertunjukan inovatif yang
disajikan oleh dalang I Wayan Nardayana atau yang sering disebut dalang ceng blong. Enkulturasi pertunjukan
wayang kulit Bali dengan pertunjukan wayang kulit Jawa serta teknologi dicoba
untuk menarik minat para penonton serta sponsor. Menyosialisasikan serta
menambahkan unsur kebudayaan jawa dirasa cukup berhasil dilakukan oleh dalang ceng blong, mengingat peertunjukannya
sangt digemari hampir di seluruh pulau Bali.
Penulis
berkesempatan menyaksikan pertunjukannya saat tampil dalam dudonan upacara yang dilaksanakan di desa penulis yaitu Desa Adat
Tanjung Bungkak. Beliau mengambil lakon Tebusala
yaitu menceritakan tentang keinginan raja Duryodana untuk menghancurkan yadnya yang telah dibangun oleh Panca
Pandawa. Pertunjukan tersebut mendapatkan sambutan yang cukup baik oleh
penonton. Bukan hanya warga Desa Adat Tanjung Bungkak saja, melainkan adapula
warga dari jauh yang datang sengaja untuk melihat pertunjukan tersebut.
Penonton berbondong-bondong datang bukannya tanpa sebab, mereka hanya menunggu
untuk menyaksikan dialog bebondresan
tokoh cenk, blonk, sangut dan delem. Tokoh-tokoh tersebut memberikan
mereka hiburan berupa banyolan, kritikan dan fenomena yang terjadi di dalam
masyarakat masa kini. Melalui suguhan dialog antara Nang Semangat (Cenk) dan
Nang Eblongan (Blonk) yang lucu dan atraktif tersebut secara tersirat dan
implisit Dalang Nardayana memasukkan nilai-nilai sosial dan filsafat didalamnya
sehingga lelucon yang dikemas tersebut bukanlah banyolan kosong semata tetapi
terdapat hal-hal yang dapat diresapi sebagai bahan pembelajaran oleh para
penonton.
Pemaparan diatas menunjukkan bahwa adanya
enkulturasi yang disajikan oleh dalang ceng
blong. Perlu diketahui bahwa enkulturasi merupakan suatu proses sosialisasi
unsur-unsur kebudayaan yang dilakukan oleh individual atau kelompok diprngaruhi
oleh unsur-unsur suatu kebudayaan lain tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya
(Wiranata: 2002, 125). Enkulturasi pertunjukannya ada pada penambahan juru gerong dan juru tandak, komposisi
tersebut merupakan komposisi yang sudah lama dianut oleh dalang-dalang di Jawa.
Pada awal dimulainya pertunjukan wayang, mereka metembang sesuai dengan alunan musik gamelan serta lirik yang
diangkat biasanya hanya ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Mahaesa dengan
suassana yang ditimbulkan untuk mengundang penonton. Bukan hanya itu, teknologi
yang disosialisasikan oleh dalang ceng
blong ada pada penambahan lampu pada
sudut kanan atas klir, sudut kiri
atas klir, serta pada blencong yang mempergunakan lampu merah,
hijau, biru, serta lampu yang berpola lingkaran bercorak.
Melalui 2 (dua) fenomena pertunjukan wayang kulit di
atas, penulis mengambil hipotese bahwa adanya difusi atau peniruan terhadap
kebudayaan lain yang dienkulturasikan oleh dalang cenk blonk, sehingga terjadilah kebimbingan estetika antara kemasan
seni yang populis. Seni pertunjukan wayang yang populis ini akan cenderung
dilirik oleh para seniman dalang muda yang lebih mengikuti arus populis sebagai
kedok kreativitas seni pertunjukan. Mereka akan mencoba untuk menirukan
kreativitas dalang cenk blonk, yang
sudah diketahui bersama bahwa dalang cenk
blonk sendiri juga meniru dari kebudayaan pertunjukan wayang jawa.
Bagaimana juga tanggapan dari para penonton yang lebih menggemari pertunjukan
dalang cenk blonk?
Pemahaman tentag enkulturasi pada pertunjukan wayang
kulit dapat dipandang dari sisi positif dan negatif. Jika dipandang dari segi
positifnya, enkulturasi dalam bidang seni pertunjukan, khususnya pertunjukan
wayang kulit, maka pertunjukan tersebut mampu untuk mengenalkan budaya baru
kepada masyarakat serta menyuguhkan suatu pertunjukan baru dan segar akibat
kemajemukan seni pertunjukan klasik yang dianggapkurang menarik lagi oleh
masyarakat modern. Begitu juga sebaliknya, jika dilihat dari kacamata negatif,
maka enkulturasi budaya ini akan mengakibatkan berbagai pihak yang bergelut
dibidang yang sama akan mengikuti jejak dalang cenk blonk dimana enkulturasi ini berhasil menyedot perhatian
masyarakat untuk menanggapinya. Suatu fenomena yang jelas terlihat mengingat
penulis menyaksikan secara langsung bahwa dalang-dalang di Bali sudah mulai
untuk mengikuti komposisi pertunjukan kreatif dalang cenk blonk, baik itu dari pencahayaan yang digunakan serta sinden
dan gerong telah menjadi satu kesatuan pertunjukan wayang kulit masa kini. Jika
eksistensi enkulturasi ini dipertahankan oleh dalang-dalang di Bali, maka
fenomena tersebut akan menimbulkan kesinambungan konsep komposisi tradisi
pertunjukan wayng kulit Bali yang berakar kuat dari mitologi kitab Siwagama yang membahas tentang komposisi
pertunjukan wayang kulit Bali.
Sebagian besar minat penonton cendrung kepada
pertunjukan wayang yang inovatif atau adanya pembaharuan dalam bentuk
pertunjukan wayang kulit Bali dan disajikan secara atraktif atau di pertunjukan
secara menarik bukan secara konvensional atau dilakukan sesuai dengan
pakem-pakem pertunjukan wayang kulit Bali. Penonton lebih mementingkan
pertunjukan yang penuh dengan lelucon dan banyolan
daripada pertunjukan yang hanya berisi filsafat dan nilai saja. Sudut pandang
penonton inilah yang merubah hakekat pertunjukan wayang kulit di Bali menjadi
pertunjukan yang sarat dengan berbagai macam banyolan dan lelucon.
Perkembangan pertunjukan wayang di Bali berkembang begitu pesat
dengan banyak munculnya bentuk-bentuk pertunjukan wayang yang terbilang baru
dan inovatif, tidak terlepas dari perkembangan masyarakat serta tuntutan
kreativitas terhadap seniman itu sendiri untuk mengembangkan dirinya.
Kreativitas bukan hanya bekal untuk mencipta saja, tetapi sebagai bekal untuk
belajar secara lebih mendalam. Masyarakatpun mulai memberikan nilai tinggi
terhadap orang yang kreatif, dalam hal ini menciptakan sebuah karya seni.
Kreativitas menuntun kita untuk menanam, membangun, dan mengembangkan karya
seni, mengartikan kreativitas sebagai proses pembenihan gagasan baru, yang
original, lebih maju, dan sekaligus merupakan lompatan atau jenjang baru dalam
alam pikiran si pencetus gagasan, atau dalam alam pikiran orang lain yang dapat
memahaminya.
Dalam disertasinya yang
berjudul Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre yang diajukan di
University of Georgia, USA, tahun 2002, I Nyoman Sedana, tidak menyangsikan
bahwa kreatifitas tersebut tidaklah sepenuhnya keliru untuk ditafsirkan. Beliau
menjelaskan bahwa kretivitas dalang dalam seni pewayangan dikenal dengan
istilah kawi dalang yang memacu kreativitas dan improvisasi dalam setiap
pagelaran. Kreativitas ini tidak saja menjamin kelangsungan hidup pewayangan
sebagai teater tertua yang masih hidup hingga sekarang, tetapi juga melalui
kreativitas seorang dalang dapat membuat setiap pagelaran wayang menjadi unik,
meskipun dalang menyajikan lakon yang sama secara berulang-ulang. Kawi
dalang telah menjadi konsep estetika dan metode kreativitas seniman dalang
untuk menciptakan respon kreatif terhadap segala kemungkinan situasi, sehingga
setiap pagelaran wayang relatif bervariasi sesuai dengan perubahan tempat,
waktu dan keadaan (desa-kala-patra). Dalam konteks penciptaan, Prof.
Sedana menegaskan bahwa kawi berarti creation, improvisation,
invention, or modification (2002:2).
Lebih lanjut guru besar Pedalangan ISI Denpasar ini menguraikan bahwa:
This creative element is known as kawi dalang, which means the creativity (kawi) of the puppet master (dalang). The kawi
dalang is not only crucial in
perpetuating the genre, but it also allows each production to be distinct and
unique, even though the dalang
may perform the same story over and over again. Kawi dalang demands that each performance change in accordance
with the fluctuating place-time-circumstances (desa-kala-patra). To a dalang
artist, like myself, this element is both interesting and challenging, for it
demands the creative response of the dalang
puppeteer to any performance situation. Thus, kawi dalang is a
term in the Balinese traditional theater that solely deals with the dalang’s creativity and improvisation
in his/her performance. Kawi
refers to two different things: an action of aesthetic creation and the name of
a language. With reference to the action of aesthetic creation, kawi means creation, improvisation,
invention, or modification.
Namun, ketajaman pada unsur-unsur dramatik antara lain: drama
kesedihan, ketakutan, keseriusan, kemarahan dan taktik atau cara dalang dalam
menyelesaikan masalah pada pertunjukan wayang kulit tidak menarik lagi bahkan
sudah tidak ada. Penonton hanya menunggu bagaimana seorang dalang
menyajikan banyolan atau lelucon yang
mampu membuat mereka tertawa.
Dalam hal ini, judul yang menurut penulis paling cocok untuk
menerjemahkan fenomena tersebut adalah “Bijak ke Kocak: Fenomena Dalam
Pembentukan Pertunjukan Wayang Kulit Bali Masakini”, dengan meninggalakan
beberapa pertanyaan tentang bagi penulis masih membutuhkan keyakinan akan
fenomena tersebut. Apakah fenomena tersebut pantas untuk diangkat dalam ranah
akademisi? Apakah penting untuk dikaji lebih mendalam? Jika penting, sebatas
mana kajian yang bisa dilakukan terhadap fenomena tersebut? Bagaimana suatu pertunjukan wayang kulit Bali yang dulu penuh
dengan unsur-unsur dramatik yang kuat, dikalahkan dengan suatu pertunjukan
wayang kulit masa kini yang penuh dengan lelucon.
DAFTAR
PUSTAKA
Conselo
G. Sevilla. 1993. Pengantar Metode
Penelitian. Jakarta, Universitas Inodnesia.
Djelantik.
2008. Estetika, Sebuah Pengantar. Jakarta,
Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).
Misiak,
Hendrik. 1988. Psikologi, Fenomenologi,
Eksistensial dan Humanistik. Bandung, PT. Eresco.
Moeliono, Anton M. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka Bahasa.
Nasution,
S. 1988. Buku Penuntun Membuat Tesis,
Skripsi, Disertasi, Makalah. Jakarta, Bumi Aksara.
Sarwa,
I Nengah. 2011. Metode Penelitian. Denpasar,
Institut Seni Indonesia (ISI).
Soedarsono.
1999. Metodelogi Penelitian Seni
Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
(MSPI).
Suteja,
I Kt. 2012. “Disertasi: Catur Asrama: Pendakian Skpiritual
Masyarakat Bali Dalam Sebuah Karya Tari”: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Wilimantara,
Panji. 2014. “Skripsi: Studi Komparasi
Bentuk Pertunjukan Wayang Kulit Melayu Tradisional Kelantan Dengan Wayang Kulit
Ramayana Bali Gaya Buleleng”. Institut Seni Indonesia Denpasar.
Wiranata,
I Gede A.B. 2002. Antropologi Budaya.
Bandung. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Komentar
Posting Komentar