Etnografi

Deskripsi Serta Transkrip Video Etnografi Lapangan:
Proses Latihan dalam Rangka
PERTUNJUKAN TARI 6 KARYA TARI 2015
“OLAH RASA KANTHI EBAHING RAGA”
 Di Sanggar Saraswati, Asrama Bali, Yogyakarta
Sabtu, 12 Desember 2015
Etnografer:
I Kadek Bhaswara Dwitiya


Sebagai etnografer, dituntut untuk dapat mengangkat pengalaman serta hasil kehidupan selama mengikuti suatu organisasi kedalam sabuah tulisan atau bahkan bisa berupa visual. Tulisan tersebut menjadi sebuah tulisan baru, dimana kegiatan memadukan penelitian lapangan (participation observation) dan berbagai macam metode penelitian untuk menghasilkan suatu tulisan yang deskriptif dan intepretatif. Kali ini saya akan mendeskripsikan hasil penelitian lapangan yang akan angkat kedalam sebuah tulisan etnografi.
Pada hari Minggu, Redite Kajeng Umanis, Sasih kapitu, Wuku Ukir, tanggal 13 Desemer 2015, pukul 18:37, Saya sudah berada di Asrama Bali yang beralamat di Jln. Mawar, No. 2, 55225, Baciro, Gondokusuma, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta, untuk melalukan penelitian sekaligus latihan untuk Pementasan Karya Dosen di Kampus ISI Yogyakrata Fakultas Seni Pertunjukan atau biasanya sering disebut Kampus ISI Sewon.
Saya bersama Ardy yang juga ikut mendukung karya dosen ini datang terlambat. Kami masuk melalui pintu belakang dan langsung mengucapkan salam kepada Pak Man Cau Arsana, biasa kami menyebutnya, selaku komposer dari Penata Tari Buk Jero Kadek.
Saya                : Om Swastyastu Pak Man
Pak Man Cau  : Om Swastyatu Dek...
Saya                : Ampura Pak Man, tiang telat. Sedurung mriki, Tiang sareng Ardy wawu ngajeng. (Maaf Pak Man, Saya telat. Sebelum kesini, Saya dan Ardy makan)
Pak Man Cau  : Nggih, ten kenapi Dek. (Ya, tidak apa-apa Dek)

Setelah itu saya langsung duduk untuk memulai memulai latihan dan disinilah saya memulai untuk merekam atau mendokumentasikan aktivitas garapan ini, baik itu dalam bentuk video, foto maupun rekaman suara. Tema besar yang saya usung yaitu Pertunjukan Tari 6 Karya Dosen 2015 “Olah Rasa Kanthi Ebahing Raga”, di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Pertunjukan Indonesia Yogyakarta, Jln Parangtritis Km. 6.5 Yogyakarta. Saya mendukung salah satu dosen dari Bali yaitu Ni Kadek Rai Dewi Astini sebagai penata tari, sedangkan I Nyoman Cau Arsana sebagai komposer tari. Kemplug menjadi alat musik tradisional Bali yang Saya mainkan, dengan fungsi kemplug yaitu untuk menjada tempo musik.
Dalam etnografi ini, pengambilan topik yang akan dibahas tidak hanya ditekankan pada bagaimana minoritas seniman Bali di Yogya mempersembahkan karya seni, namun bagaiman proses latihan serta bagaimana suasana keakraban seniman-seniman Bali yang mendukung karya seni tari ini. Mengingat Saya merasakan adanya rasa rindu berkomunikasi dengan bahasa daerah Saya yaitu Bahasa Bali dengan teman, saudara serta para tetua. 
Bertempat di Sanggar Saraswati Asrama Bali, Yogyakarta, terdapat suatu suasana dimana penuangan ide komposer kepada penabuh dan penyatuan suasana gamelan bali dengan tari sangatlah terasa. Semua itu dibuktikan dengan dialog antara komposer dengan para penabuh gamelan dan penata tari dengan pendukung tari. Dalam rekaman video, saat Pak Man yang bertindak sebagai komposer menuangkan idenya kepada para penabuh, namun Emon seakan tidak menghiraukan. Malahan Dia sibuk bermain hp dan berbicara dengan Dek Wi dan Pier.
Mungkin alasan yang tepat untuk hal ini adalah Emon masih menunggu pola pukulan baku atau gedug polos dari komposer, mengingat Emon penabuh yang berpola pukulan melawan atau gebug sangsih. Maka dari itu, dalam video terlihat komposer mengajarkan pola pukulan baku kepada Gung Adi. Komposer sendiri dalam menuangkan ide sudah terlebih dahulu merancang melodi yang akan digunakan dalam garapan ini. Pak Man Cau mempunyai sebuah buku cacatan yang berisikan angka-angka seperti halnya cacatan komposer gamelan Jawa. Komposer gamelan Jawa biasanya menggunakan angka ji, ro, lu, pat, mo, nem, pi. Sedangkan para komposer di Bali membuat cacatan dengan menggunakan aksara dingdong.
Aksara dingdong terdapat nada ndong, ndeng, ndung, ndang, nding yang digunakan oleh laras pelong maupun slendro. Adapula nada yang berjarak setengah dan berada antara nada ndeng-ndung menjadi ndeung dan ndang-nding menjadi ndaing. Maka, jika diurutkan akan menjadi 7 nada, ndong, ndeng, ndeung, ndung, ndang, ndaing, nding.
 Dalam penuangan ide, komposer kadang-kadang memberikan arahan seperti: “coba ulang ane mare Dek, Mon, Gung...”, “ne sulinge Dek” (Ini sulingnya Dek), “nyak ye to asane? Hahahaha...” (mau kayaknya ya? Hahahaha...). “Gus... pepedin ye, ne tepukin Gus, Tu masih” (Gus... jalankan sesuai alunan, ini lihat Gus, Tu juga) “Tu, gaenin otek ne tu” (Tu, bikinin candetnya). Bahkan banyak lagi intruksi yang diberikan agar para penabuh mampu mencerna musik dengan lebih detail, mengingat pementasan karya ini akan segera dipentaskan pada tanggal 24 Desember 2015.
Disisi lain, Tuyin dan Galih terlihat sedang mengingat tarian yang diberikan oleh penata tari, agar pada saat dimulainya latihan bersama tidak adanya kekeliruan, karena yang saya ketahui penata tari sedikit banyak berpatokan kepada musik gamelan yang sudah disepakati antara komposer dan penata tari.
Bukan kepada penabuh saja komposer memberikan intruksi, namun adanya interaksi antara komposer dengan penata untuk menyamakan konsepsi pertunjukan. Mereka berinteraksi memberikan solusi satu sama lainnya:
Pak Man Cau  : jro... jro... coba ulang ane pas ngigelin kipas e. (jro... jro... coba ulang pada saat menarikan kipas)
                        Ampun nyak niki jro? (sudah mau ini jro?)
Buk Jro Kadek            : nggih Pak Man, coba ulang biin gambelanne Pak Man, tiang mireng dumun, pang kude nika mejemak gong e. (ya Pak Man, coba ulang lagi musiknya Pak Man, Saya dengerin dulu, berapa kali membutuhkan hitungan gong).
Proses latihan pun dilanjutkan kembali dengan mencoba dari bagian awal garapan tari sampai pada bagian isi garapan. Saat istirahat pun tiba sekitar pukul 20:24 dan kami disuguhkan air mineral dalam bentuk gelas kemasan kardus serta agar-agar berwarna-warni oleh Buk Jro dan suaminya, Saya menyebut dengan nama Gung Aji.
Gung Aji         : Niki jaje jaen. Oper-oper kebelakang nggih! (Ini camilan enak. Bawa kebelakang ya). Kebelakang yang dimaksud adalah membawa camilan pada teman-teman penabuh yang berada dibelakang menabuh gong dan jublag.
Entah karena memang enak atau memang kelaparan, makan yang disuguhkan tersebut habis dalam kurun waktu ±20 menit dilahap oleh teman-teman. Beberapa teman bersantai atau beristirahat dengan caranya sendiri seperti  menghisap sebatang rokok sambil bercanda dengan teman-teman, makan agar-agar, bermain mobile phone atau hp, mencari  atau mengingat gending yang baru dituangkan oleh komposer. Namun dalam waktu istirahat tersebut, Saya mendengar beberapa percakapan yang membahas tentang kostum.
Buk Jro            : Kude ukuran baju e dek? (Berapa ukuran baju Dek?)
Dek wi                        : tiang M Buk Jro. (Saya M Buk Jro)
Pier                  : tiang L Buk Jro. (Saya L Buk Jro)
Bli Agus          : tiang XL (Saya XL)
Emon               : Bli Agus XS ukuranne.
Tuyin               : Ardy?
Ardy                : XL
Bli Agus          : XL gede lo...
Tuyin               : Bli Dwi?
Buk Jro            : dwi S gen ye bang. Hahaha... (dwi berikan aja S. Hahaha...)
Saya                : ah... tiang M Buk Jro. Hahaha... (ah... Saya M Buk Jro)
Tuyin               : M
Emon               : L
Buk Jro            : Gung Adi napi? (Gung Adi apa)
Gung Adi        : M... ML...eh...
Gung Aji         : ML... Making Love ne. Hahaha... nyen ML gung? (ML... Bercinta ya. Hahaha,,, siaya yang bercita Gung?)
Pencacatan pemesanan kostum, dilakukan oleh Buk Jro sendiri agar bisa memantau serta bersosialisasi dengan penabuh yang lain. Buk Jro dibantu oleh Merina Rahayu atau Tuyin yang masih aktif kuliah di Pascasarjana ISI Yogyakarta dengan minat Manajeman Tata Kelola Seni. Mereka berdua menghitung jumlah pendukung garapan agar tidak adanya kekurangan kostum, mengingat Buk Jro juga memikirkan tugas dari stage manager untuk menata panggung, belum lagi konsentrasi para penabuh yang sebagian besar juga mendukung garapan dari Buk Dewi dengan acara yang sama namun waktu pementasannya yang berbeda.
Disisi lain, ada dialog yang menarik dari Ardy serta Gung Adi. Ardy menerima pesan dari temannya di Bali untuk menanyakan harga kendang Bali sekarang. Ardy pun bertanya dengan Gung Adi karena Ardy dan mungkin teman-teman di asrama Bali mengetahui semua bahwa Gung Adi merupakan penabuh kendang yang sudah hebat SMKI Gianyar, Bali.
Ardy                            : Gung, kude mangkin pasaran ajin kengange? (Gung, berapa sekarang harga gendang)
Gung Adi        : Kendang napi bli? (gendang apa Bli?)
Ardy                : kendang krumpung Gung. (gendang krumpung Gung)
Gung Adi        : Kira-kira 3,5 juta.
Ardy                : abesik ne monton ape apasang? (satunya segitu atau sepasang?)
Gung Adi        : apasang nika. Wawu je tiang SMS ne. Aji monto jani pasaranne. (itu sepasang. Baru aja di SMS. Segitulah pasarannya sekarang)

Sudah tidak merasa canggung lagi jika kita dihadapkan dengan suatu wacana dewasa. Bukan wacana dewasa tersebut yang ditekankan dalam situasi pada saat itu. Namun bagaimana komunikasi antara kelompok terjalin kuat.
Sekitar pukul 21:06, kami kembali menjalani latihan. Sebelum itu, terlihat Gung Aji dan Buk Jro mempersiapkan tripod beserta handycam untuk merekam garapan ini. Perekam dipercayakan oleh Buk Jro kepada suaminya sendiri yaitu Gung Aji. Buk Jro menginginkan sebuah rekaman yang nantinya akan ditonton oleh para penari untuk memberikan gambaran, serta mereka juga akan mengetahui serta mengevaluasi gerak pada garapan ini.
Persiapan tersebut cukup lama, karena selain memasang tripod serta handycam, Gung Aji juga mencari posisi yang tepat agar mendapatkan hasil rekaman video yang bagus. Dirasa lama, komposer kembali memberikan pengarahan kepada para penabuh gamelan dan bahkan sedikit latihan suling dengan Dek Wi:
Pak Man Cau  : jani ulang biin uling awal ked ane mare, inget-ingetin nah. (sekarang mengulang lagi dari awal sampai dengan yang terakhir diajari, inget ya).
Saya                : Pak Man, ane dipengawak busan, tuwunin tempo e? (Pak Man, pada bagian isi, temponya diturunin?)
Pak Man Cau  : ane cen to dek? (yang mana itu dek?)
Saya                : ane to Pak Man, ane pas nguyeng kipas to, kan kejep ajan maan selah gending, to tuwunin tempo e? (yg itu Pak Man, pada saat menarikan kipas, waktunya sangat singkat, apa diturunin temponya?)
Pak Man Cau  : o... ane to, ae dek, tuwunin be tempo e. (o... yang itu, turunin temponya)

Terlihat juga Buk Jro memberikan sedikit ingatan gerak-gerak tari kepada penari legong yaitu Desak dengan temannya (Saya tidak mngetahui namanya). Buk Jro mengevaluasi cara menarikan kipas atau kepet Bali serta memberikan sedikit pembenahan sikap atau agem-agem tari Bali.
Latihan pun dimulai dari bagian awal sampai pada bagian yang telah ditentukan. Proses latihan tidak direkam karena Saya sebagai penabuh serta dituntut juga adanya rasa keseriusan saat latihan dimulai. Pentingnya keseriusan latihan akan berdampak juga pada hasil yang maksimal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:11 dan latihan pun diakhiri dan dimulailah pembicaraan tentang jadwal latihan selanjutnya. Dalam suasana ini, Saya juga tidak sepenuhnya merekam video karena saya menganggap pengumuman atau raos pada saat akhir latihan sangat penting. Disini kita menyampaikan evaluasi saat proses latihan serta kepastian jadwal latihan. Mengingat semua para pendukung mempunyai kesibukan masing-masing, baik yang bisa ditunda maupun tidak untuk mengkonsentrasikan serta menjaga kondisi para pemain untuk garapan ini. Namun, Saya masih mengingat dan sedikit mencatat percakapan pada saat pengumuman tersebut.
Pak Man Cau  : e... penabuh... niki malih pidan polih latihan? (e... Penabuh... kapan bisa latihan?)
Buk Jro           : nggih... malih pidan polih latian niki penabuh e ajak penari e? (ya... kapan bisa latihan para penabuh dan penari?)
Pak Man Cau  : yen itung uling biin mani, rage maan latihan pang 9 gen, tanggal 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22? (kalau dihitung besok, kita akan mendapat latihan hanya 9 kali saja, tanggal 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22?)
Gung adi         : Pak Man, ampura niki, tanggal 19 niki tiang berangkat ke Solo. (Pak Man, maaf, tanggal 19 ini saya berangkat ke Solo)
Buk Jro           : beh... ten ngidang Gung latihan toh? (beh... gal bisa Gung latihon toh?)
Pak Man Cau  : nggih... ten kenapi Gung. Ten ye latihan tanggal 19. (ya... tidak apa-apa. Jadi tanggal 19 tidak latihan)
Gung Adi        :  tapi tanggal 20 tiang ampun driki. (tapi tanggal 20 sayan sudah disini (di Yogyakarta))
Pak Man Cau  : o... berarti ngidang  ye Gung latihan tanggal 20 nggih? (o... berarti Gung bisa latihan tanggal 20 ya?)
Buk Jro           : Ngidang Gung? (bisa Gung?)
Gung Adi        : Nggih... Ngidang. (ya... Bisa)
Pak Man Cau  : nyen biin ade acara? (Siapa lagi ada acara?)
Buk Jro           : benjang mresidang latihan? (Besok bisa latihan?)
Pier                  : ampura Buk Jro, niki tiang wawu polih berita, Buk Dewi benjang latihan, tiang jagi ngedukung ragane. (Maaf Buk Jro, saya baru mendapat berita, Buk Dewi besok latihan, saya ikut mendukung Beliau).
Buk Jro           : Jam kude nike dek? (Jam berapa dek?)
Pier                  : Jam 7 Buk Jro.
Buk Jro           : yen latihan sore punapi? (Kalo latihan sore bagaimana?)
Pak Man Cau  : ade ane masuk ked sanja? (Ada yang kuliah sampai sore?)
Gung Adi        : tiang sareng Emon masuk ked sanja Pak Man. (saya dan emon kuliah sampai sore).
Pak Man Cau  : o... nggih (O... ya)
Saya                : (sambil berbisik dengan pier) Pier, De Radi nak pentas tanggal 17 peteng ne. Engken ne Dek? (Pier, De Radi pentas tangal 17 malam, bagaimana ini?)
Pier                  : niki malih siki Pak Man, tanggal 17 De Radi ujian koreo ring kampus sewon. (satu lagi Pak Man, tanggal 17 De Radi ujian koreo dikampus sewon)
Buk Jro           : Sami terlibat garapanne Radi? (Semua terlibat dalam garapannya Radi?)
Pier                  : Nggih, Bli Duwik, Ardy, Tiang, Dek Wi ngedukung Radi. (Ya, kakak Duwik, Ardy, Saya, Dek Wi mendukung Radi)
Pak Man Cau  : o... nggih... (O...ya...)

Mendengar beberapa pemaparan tersebut, Pak Man Cau berkompromi dengan Buk Jro, mungkin masalah jadwal latihan karena yang Saya dengar hanya kata nggih dan ten ngidang.
Pak Man Cau  : nggih... latihanne kanggoang malu ked jam mone, be peteng masih. Latihan selanjutnya tanggal 13 seperti biase. (Ya... Latihannya sementara sampai disini dulu, sudah malam. Latihan selanjtnya tanggal 13 seperti biasa (jm 6 sore)).
Semuanya       : nggih... (ya...)

Berakhirnya percakapan tersebut, kami berdiri dan segera membersihkan tempat latihan dengan cara kita sendiri seperti ada yang menghabiskan makanan sisa, masih berbicara tentang bagaimana alunan musik gamelan yang baru digarap, ada yang merapikan gambelan dan ada pula yang menyapu lantai, ada yang membantu merancang kostum penari dan bahkan mengacaukan kostum yang hendak digarap.
Terlihat dalam video, yang menjadi model perancang busana adalah Kadek Sumiasih atau kami biasanya memanggil Kadek Mongkeg, lulusan tahun 2015 S1 jurusan seni tari di ISI Sewon Yogyakarta. Sedangkan perancang busana adalah Merina Rahayu atau kami biasanya memanggil dengan sebutan Tuyin. Ia merupakan mahasiswa Pascasarjana ISI Suryodininggratan Yogyakarta semester 1 jurusan Manajemen Tata Kelola Seni (MTS). Mereka berdua memadukan ide untuk merancang pakaian ini. Dek Mongkeg menggunakan tutup dada atau angkin, sarung atau kamen yang sementara pada waktu itu menggunakan kamen latihannya, kain putih yang bertepikan prada emas motif Bali, serta segulung kain emas bermotif yang dililitkan pada tubuh model dari dada atas sampai pinggul. Perancangan kostum tari tersebut dilihat oleh orang-orang yang masih berada disana.
Saat mereka sibuk merancang, Dek Wi mengusili mereka berdua dengan cara ikut melilitkan kain emas itu dengan sewenang-wenang. Walaupun berhasil mengacaukan rancangan itu, namun mereka berdua tertawa melihat ulah usil Dek Wi. Tidak adanya rasa marah, jengkel serta dendam kepada Dek Wi. Tingkah tersebut merupakan salah satu tindakan komikasi dalam persahabatan mereka termasuk kami semua. Secara tersirat, keusilan menjadi sebuah tidakan pokok dalam pertemanan, namun tetap pada suatu batasan-batasan sesuai kewajaran.
Lain halnya dengan dialog antara Pak Man Cau dengan Emon. Mereka masih mengingat gending yang baru dituangkan. Dialog yang dilakukan sangat unik, seperti “jeng jereng jeng... jereng cek jereng... jereng cek jereng...kapak kapak kapak kapak... jereng cek jereng... negengengengeng jereng cek jereng... jereng cek jereng... negengengengeng jereng cek jereng... jereng cek jereng...kapak kapak kapak kapak... jereng cek jereng...”.
Angin malam mulai masuk kedalam ruangan. Beberapa pendukung sudah mulai pulang. Terlihat Desak, penari legong garapan ini meninggalkan asrama dengan terlebih dahulu berpamitan kepada semua anggota yang masih berada dalam ruangan.
Desak              : Bli... Bli semua, pulang duluan nggih.
Semua             : Nggih... yok...
           
Kejadian tersebut segera saya dokumentasikan dalam bentuk foto serta rekaman tabuh garapan tari Buk Jro ini. Kumpulan foto yang terdapat dalam video hanya menggambarkan secara terperinci tentang proses latihan serta keakraban para personil yang mendukung garapan ini. Sekitar pukul 21:37, Saya berpamitan pulang kepada teman-teman serta para tetua diasrama untuk segera mengerjakan tugas etnografi dari pak Prof. Y. Sumandyo Hadi.
Saya                            : (saya berpamitan dengan teman-teman dan menyalami mereka) ayo... malunan mulih nah Dek. (ayo... pulang duluan ya)
Teman-teman  : (saya berpamitan dengan teman-teman dan menyalami mereka ada yang menjawab dengan kata ok, nggih, adeng-adeng wi, yok)
Saya                : (berpamitan dengan para tetua diasrama sambil berdalaman)
                        Pak Man, tiang malunan mulih nggih. Wenten tugas. Hehehe... (Pak Man, saya pulang duluan ya. Ada tugas. Hehehe...)
Pak Man Cau  : nggih Dek (ya Dek)
Saya                : Gung Aji, tiang dumunan nggih, suksma Gung Aji. (Gung Aji, saya duluan ya, terima kasih Gung Aji)
Gung Aji         : (Saya langsung menyalami Gung Aji yang pada saat itu sedang merapikan gamelan)
o nggih... nggih... nggih Dek, mewali. (O... ya... ya... ya Dek, kembali)
Saya                : (Saya mendatangi Buk Jro yang sedang berbicara dengan para penari yang masih berada di lokasi)
                        Buk Jro, tiang dumunan nggih, wenten tugas.
Buk Jro           : Nggih Dek...
Buk Jro           : Blin Dek be mulih ke Bali. (kakaknya Dek sudah pulang ke Bali)
Saya                : ampun Buk Jro, ampun dibi peteng ne. Pas tiang latihan driki pun bli e pun menek taksi ke bandara. Blie sing nyak ngorang pidan mulih ne. Mejalan tiang mriki, mare ked di TamSis (Taman Siswa) teponne ajak blie orinne ngateh ke bandara. (sudah Buk Jro, sudah kemaren malem. Saat Saya latihan disini itu kakak sudah berangkat ke bandara. Kakak tidak memberitahu kapan pulang. Saat berangkat saya kesini, baru sampai di TamSis (Taman Siswa)
Buk Jro           : o kenten.. nggih Dek, inget biin mani latihan nah Dek. (o... begitu, ya Dek, Inge besok latihan ya Dek)
Saya                : Inggih Buk Jro, yen kenten tiang mapamit nggih. (Ya Buk Jro. Kalau begitu saya pulang ya)
Buk Jro           : Nggih Dek. Alon-alon. (Ya dek. Pelan-pelan)
Saya                : Nggih, suksma Buk Jro (Ya... terima kasih Buk jro)
Buk Jro           : Mewali Dek. (kembali atau sama-sama)
Tepat pukul 21:37 saya pulang dari asrama Bali ke kontrakan Saya di Kelurahan Panggungharjdo, Dusun Sawit, RT 03, No. 206,  Sewon, Bantul Yogyakarta, Indonesia.
Kesimpulam
Participation observation dilakukan tidak hanya berpatok pada hasil dari garapan ini, namun lebih kepada bagaimana proses latihan para seniman Bali di Yogyakarta serta komunikasi yang seperti apa yang dilakukan oleh seniman Bali saat berkumpul, baik itu hanya sekedar bertemu ataupun membuat sebuah karya seperti halnya Buk Jro ini.
            Proses yang terjadi saat itu sama dengan proses yang bisanya dilakukan di Bali. Ada yang merokok, bersantai saat komposer menuangkan ide, namun yang sangat disayangkan sekali adalah saat proses latihan tersebut, baik para penabuh dan penari tidak ada yang memakai kamen dan udeng, hanya Dek Mongkeg saja yang memakai kamen atau sarung. Kamen dan udeng bisa disebut pakaian adat ringan dalam menjalankan sebuah kegiatan yang sederhana, salah satunya kegiatan latihan seni. Sensasi yang dialami menggunakan pakaian adat ringan saat latihan berbeda dengan menggunakan pakaian biasa. Merasa menjiwai sebuah garapan, apalagi garapan tersebut berbau seni khususnya seni Bali. 

Komentar

Postingan Populer