Etnografi
Deskripsi Serta Transkrip Video Etnografi Lapangan:
Proses Latihan dalam Rangka
PERTUNJUKAN TARI 6 KARYA TARI 2015
“OLAH RASA KANTHI EBAHING RAGA”
Di Sanggar
Saraswati, Asrama Bali, Yogyakarta
Sabtu, 12 Desember 2015
Etnografer:
I Kadek Bhaswara Dwitiya
Sebagai
etnografer, dituntut untuk dapat mengangkat pengalaman serta hasil kehidupan
selama mengikuti suatu organisasi kedalam sabuah tulisan atau bahkan bisa
berupa visual. Tulisan tersebut menjadi sebuah tulisan baru, dimana kegiatan
memadukan penelitian lapangan (participation
observation) dan berbagai macam metode penelitian untuk menghasilkan suatu
tulisan yang deskriptif dan intepretatif. Kali ini saya akan mendeskripsikan
hasil penelitian lapangan yang akan angkat kedalam sebuah tulisan etnografi.
Pada
hari Minggu, Redite Kajeng Umanis, Sasih
kapitu, Wuku Ukir, tanggal 13 Desemer 2015, pukul 18:37, Saya sudah berada
di Asrama Bali yang beralamat di Jln. Mawar, No. 2, 55225, Baciro, Gondokusuma,
Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta, untuk melalukan penelitian sekaligus latihan
untuk Pementasan Karya Dosen di Kampus ISI Yogyakrata Fakultas Seni Pertunjukan
atau biasanya sering disebut Kampus ISI Sewon.
Saya
bersama Ardy yang juga ikut mendukung karya dosen ini datang terlambat. Kami masuk
melalui pintu belakang dan langsung mengucapkan salam kepada Pak Man Cau Arsana,
biasa kami menyebutnya, selaku komposer dari Penata Tari Buk Jero Kadek.
Saya : Om Swastyastu Pak Man
Pak Man Cau : Om
Swastyatu Dek...
Saya : Ampura Pak Man, tiang telat. Sedurung mriki, Tiang sareng Ardy wawu
ngajeng. (Maaf Pak Man, Saya telat. Sebelum kesini, Saya dan Ardy makan)
Pak
Man Cau : Nggih, ten kenapi Dek. (Ya, tidak apa-apa Dek)
Setelah
itu saya langsung duduk untuk memulai memulai latihan dan disinilah saya
memulai untuk merekam atau mendokumentasikan aktivitas garapan ini, baik itu
dalam bentuk video, foto maupun rekaman suara. Tema besar yang saya usung yaitu
Pertunjukan Tari 6 Karya Dosen 2015 “Olah Rasa Kanthi Ebahing Raga”, di
Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Pertunjukan
Indonesia Yogyakarta, Jln Parangtritis Km. 6.5 Yogyakarta. Saya mendukung salah
satu dosen dari Bali yaitu Ni Kadek Rai Dewi Astini sebagai penata tari,
sedangkan I Nyoman Cau Arsana sebagai komposer tari. Kemplug menjadi alat musik tradisional Bali yang Saya mainkan,
dengan fungsi kemplug yaitu untuk
menjada tempo musik.
Dalam
etnografi ini, pengambilan topik yang akan dibahas tidak hanya ditekankan pada
bagaimana minoritas seniman Bali di Yogya mempersembahkan karya seni, namun
bagaiman proses latihan serta bagaimana suasana keakraban seniman-seniman Bali
yang mendukung karya seni tari ini. Mengingat Saya merasakan adanya rasa rindu
berkomunikasi dengan bahasa daerah Saya yaitu Bahasa Bali dengan teman, saudara
serta para tetua.
Bertempat
di Sanggar Saraswati Asrama Bali, Yogyakarta, terdapat suatu suasana dimana
penuangan ide komposer kepada penabuh dan penyatuan suasana gamelan bali dengan
tari sangatlah terasa. Semua itu dibuktikan dengan dialog antara komposer
dengan para penabuh gamelan dan penata tari dengan pendukung tari. Dalam
rekaman video, saat Pak Man yang bertindak sebagai komposer menuangkan idenya
kepada para penabuh, namun Emon seakan tidak menghiraukan. Malahan Dia sibuk
bermain hp dan berbicara dengan Dek Wi dan Pier.
Mungkin
alasan yang tepat untuk hal ini adalah Emon masih menunggu pola pukulan baku
atau gedug polos dari komposer,
mengingat Emon penabuh yang berpola pukulan melawan atau gebug sangsih. Maka dari itu, dalam video terlihat komposer
mengajarkan pola pukulan baku kepada Gung Adi. Komposer sendiri dalam
menuangkan ide sudah terlebih dahulu merancang melodi yang akan digunakan dalam
garapan ini. Pak Man Cau mempunyai sebuah buku cacatan yang berisikan
angka-angka seperti halnya cacatan komposer gamelan Jawa. Komposer gamelan Jawa
biasanya menggunakan angka ji, ro, lu,
pat, mo, nem, pi. Sedangkan para komposer di Bali membuat cacatan dengan
menggunakan aksara dingdong.
Aksara
dingdong terdapat nada ndong, ndeng, ndung, ndang, nding yang
digunakan oleh laras pelong maupun slendro. Adapula nada yang berjarak
setengah dan berada antara nada ndeng-ndung menjadi ndeung dan ndang-nding menjadi ndaing. Maka, jika diurutkan akan menjadi 7 nada, ndong, ndeng, ndeung, ndung, ndang, ndaing, nding.
Dalam penuangan ide, komposer kadang-kadang memberikan
arahan seperti: “coba ulang ane mare Dek,
Mon, Gung...”, “ne sulinge Dek”
(Ini sulingnya Dek), “nyak ye to asane?
Hahahaha...” (mau kayaknya ya? Hahahaha...). “Gus... pepedin ye, ne tepukin Gus, Tu masih” (Gus... jalankan
sesuai alunan, ini lihat Gus, Tu juga) “Tu,
gaenin otek ne tu” (Tu, bikinin candetnya). Bahkan banyak lagi intruksi
yang diberikan agar para penabuh mampu mencerna musik dengan lebih detail,
mengingat pementasan karya ini akan segera dipentaskan pada tanggal 24 Desember
2015.
Disisi
lain, Tuyin dan Galih terlihat sedang mengingat tarian yang diberikan oleh
penata tari, agar pada saat dimulainya latihan bersama tidak adanya kekeliruan,
karena yang saya ketahui penata tari sedikit banyak berpatokan kepada musik
gamelan yang sudah disepakati antara komposer dan penata tari.
Bukan
kepada penabuh saja komposer memberikan intruksi, namun adanya interaksi antara
komposer dengan penata untuk menyamakan konsepsi pertunjukan. Mereka
berinteraksi memberikan solusi satu sama lainnya:
Pak
Man Cau : jro... jro... coba ulang ane pas ngigelin kipas e. (jro... jro...
coba ulang pada saat menarikan kipas)
Ampun nyak niki jro? (sudah mau ini jro?)
Buk
Jro Kadek : nggih Pak Man, coba ulang biin gambelanne
Pak Man, tiang mireng dumun, pang kude nika mejemak gong e. (ya Pak Man,
coba ulang lagi musiknya Pak Man, Saya dengerin dulu, berapa kali membutuhkan
hitungan gong).
Proses
latihan pun dilanjutkan kembali dengan mencoba dari bagian awal garapan tari
sampai pada bagian isi garapan. Saat istirahat pun tiba sekitar pukul 20:24 dan
kami disuguhkan air mineral dalam bentuk gelas kemasan kardus serta agar-agar
berwarna-warni oleh Buk Jro dan suaminya, Saya menyebut dengan nama Gung Aji.
Gung
Aji : Niki jaje jaen. Oper-oper kebelakang nggih! (Ini camilan enak. Bawa
kebelakang ya). Kebelakang yang dimaksud adalah membawa camilan pada
teman-teman penabuh yang berada dibelakang menabuh gong dan jublag.
Entah
karena memang enak atau memang kelaparan, makan yang disuguhkan tersebut habis
dalam kurun waktu ±20 menit dilahap oleh teman-teman. Beberapa teman bersantai
atau beristirahat dengan caranya sendiri seperti menghisap sebatang rokok sambil bercanda
dengan teman-teman, makan agar-agar, bermain mobile phone atau hp, mencari
atau mengingat gending yang baru dituangkan oleh komposer. Namun dalam
waktu istirahat tersebut, Saya mendengar beberapa percakapan yang membahas
tentang kostum.
Buk Jro : Kude ukuran baju e dek? (Berapa ukuran baju Dek?)
Dek wi : tiang M Buk Jro. (Saya M Buk Jro)
Pier : tiang L Buk Jro. (Saya L Buk Jro)
Bli Agus : tiang
XL (Saya XL)
Emon : Bli Agus XS ukuranne.
Tuyin : Ardy?
Ardy : XL
Bli Agus : XL gede lo...
Tuyin : Bli Dwi?
Buk Jro : dwi S gen ye bang. Hahaha... (dwi berikan aja S. Hahaha...)
Saya : ah... tiang M Buk Jro. Hahaha... (ah... Saya M Buk Jro)
Tuyin : M
Emon : L
Buk Jro : Gung Adi napi? (Gung Adi apa)
Gung Adi : M...
ML...eh...
Gung
Aji : ML... Making Love ne. Hahaha... nyen ML gung? (ML... Bercinta ya.
Hahaha,,, siaya yang bercita Gung?)
Pencacatan
pemesanan kostum, dilakukan oleh Buk Jro sendiri agar bisa memantau serta
bersosialisasi dengan penabuh yang lain. Buk Jro dibantu oleh Merina Rahayu
atau Tuyin yang masih aktif kuliah di Pascasarjana ISI Yogyakarta dengan minat
Manajeman Tata Kelola Seni. Mereka berdua menghitung jumlah pendukung garapan
agar tidak adanya kekurangan kostum, mengingat Buk Jro juga memikirkan tugas
dari stage manager untuk menata
panggung, belum lagi konsentrasi para penabuh yang sebagian besar juga
mendukung garapan dari Buk Dewi dengan acara yang sama namun waktu
pementasannya yang berbeda.
Disisi
lain, ada dialog yang menarik dari Ardy serta Gung Adi. Ardy menerima pesan
dari temannya di Bali untuk menanyakan harga kendang Bali sekarang. Ardy pun bertanya dengan Gung Adi karena
Ardy dan mungkin teman-teman di asrama Bali mengetahui semua bahwa Gung Adi
merupakan penabuh kendang yang sudah
hebat SMKI Gianyar, Bali.
Ardy : Gung, kude mangkin pasaran ajin kengange?
(Gung, berapa sekarang harga gendang)
Gung Adi : Kendang
napi bli? (gendang apa Bli?)
Ardy : kendang krumpung Gung. (gendang krumpung Gung)
Gung Adi : Kira-kira 3,5 juta.
Ardy : abesik ne monton ape apasang? (satunya segitu atau sepasang?)
Gung
Adi : apasang nika. Wawu je tiang SMS ne. Aji monto jani pasaranne. (itu
sepasang. Baru aja di SMS. Segitulah pasarannya sekarang)
Sudah
tidak merasa canggung lagi jika kita dihadapkan dengan suatu wacana dewasa.
Bukan wacana dewasa tersebut yang ditekankan dalam situasi pada saat itu. Namun
bagaimana komunikasi antara kelompok terjalin kuat.
Sekitar
pukul 21:06, kami kembali menjalani latihan. Sebelum itu, terlihat Gung Aji dan
Buk Jro mempersiapkan tripod beserta handycam untuk merekam garapan ini. Perekam
dipercayakan oleh Buk Jro kepada suaminya sendiri yaitu Gung Aji. Buk Jro
menginginkan sebuah rekaman yang nantinya akan ditonton oleh para penari untuk memberikan
gambaran, serta mereka juga akan mengetahui serta mengevaluasi gerak pada
garapan ini.
Persiapan
tersebut cukup lama, karena selain memasang tripod serta handycam, Gung Aji
juga mencari posisi yang tepat agar mendapatkan hasil rekaman video yang bagus.
Dirasa lama, komposer kembali memberikan pengarahan kepada para penabuh gamelan
dan bahkan sedikit latihan suling dengan Dek Wi:
Pak
Man Cau : jani ulang biin uling awal
ked ane mare, inget-ingetin nah. (sekarang mengulang lagi dari awal sampai
dengan yang terakhir diajari, inget ya).
Saya : Pak Man, ane dipengawak busan, tuwunin tempo e? (Pak Man, pada
bagian isi, temponya diturunin?)
Pak
Man Cau : ane cen to dek? (yang mana itu dek?)
Saya : ane to Pak Man, ane pas nguyeng kipas to, kan kejep ajan maan selah
gending, to tuwunin tempo e? (yg itu Pak Man, pada saat menarikan kipas,
waktunya sangat singkat, apa diturunin temponya?)
Pak
Man Cau : o... ane to, ae dek, tuwunin be tempo e. (o... yang itu, turunin
temponya)
Terlihat
juga Buk Jro memberikan sedikit ingatan gerak-gerak tari kepada penari legong
yaitu Desak dengan temannya (Saya tidak mngetahui namanya). Buk Jro
mengevaluasi cara menarikan kipas atau kepet
Bali serta memberikan sedikit
pembenahan sikap atau agem-agem tari
Bali.
Latihan
pun dimulai dari bagian awal sampai pada bagian yang telah ditentukan. Proses
latihan tidak direkam karena Saya sebagai penabuh serta dituntut juga adanya
rasa keseriusan saat latihan dimulai. Pentingnya keseriusan latihan akan
berdampak juga pada hasil yang maksimal.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 21:11 dan latihan pun diakhiri dan dimulailah
pembicaraan tentang jadwal latihan selanjutnya. Dalam suasana ini, Saya juga
tidak sepenuhnya merekam video karena saya menganggap pengumuman atau raos pada saat akhir latihan sangat
penting. Disini kita menyampaikan evaluasi saat proses latihan serta kepastian
jadwal latihan. Mengingat semua para pendukung mempunyai kesibukan
masing-masing, baik yang bisa ditunda maupun tidak untuk mengkonsentrasikan
serta menjaga kondisi para pemain untuk garapan ini. Namun, Saya masih mengingat
dan sedikit mencatat percakapan pada saat pengumuman tersebut.
Pak
Man Cau : e... penabuh... niki malih pidan polih latihan? (e... Penabuh...
kapan bisa latihan?)
Buk
Jro : nggih... malih pidan polih latian niki penabuh e ajak penari e?
(ya... kapan bisa latihan para penabuh dan penari?)
Pak
Man Cau : yen itung uling biin mani, rage maan latihan pang 9 gen, tanggal 14,
15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22? (kalau dihitung besok, kita akan mendapat
latihan hanya 9 kali saja, tanggal 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22?)
Gung
adi : Pak Man, ampura niki, tanggal 19 niki tiang berangkat ke Solo. (Pak
Man, maaf, tanggal 19 ini saya berangkat ke Solo)
Buk
Jro : beh... ten ngidang Gung latihan toh? (beh... gal bisa Gung latihon
toh?)
Pak
Man Cau : nggih... ten kenapi Gung. Ten ye latihan tanggal 19. (ya... tidak
apa-apa. Jadi tanggal 19 tidak latihan)
Gung
Adi : tapi
tanggal 20 tiang ampun driki. (tapi tanggal 20 sayan sudah disini (di
Yogyakarta))
Pak
Man Cau : o... berarti ngidang ye Gung
latihan tanggal 20 nggih? (o... berarti Gung bisa latihan tanggal 20 ya?)
Buk
Jro : Ngidang Gung? (bisa Gung?)
Gung
Adi : Nggih... Ngidang. (ya... Bisa)
Pak
Man Cau : nyen biin ade acara? (Siapa lagi ada acara?)
Buk
Jro : benjang mresidang latihan? (Besok bisa latihan?)
Pier : ampura Buk Jro, niki tiang wawu polih berita, Buk Dewi benjang latihan,
tiang jagi ngedukung ragane. (Maaf Buk Jro, saya baru mendapat berita, Buk
Dewi besok latihan, saya ikut mendukung Beliau).
Buk
Jro : Jam kude nike dek? (Jam berapa dek?)
Pier : Jam 7 Buk Jro.
Buk
Jro : yen latihan sore punapi? (Kalo latihan sore bagaimana?)
Pak
Man Cau : ade ane masuk ked sanja? (Ada yang kuliah sampai sore?)
Gung
Adi : tiang sareng Emon masuk ked sanja Pak Man. (saya dan emon kuliah
sampai sore).
Pak
Man Cau : o... nggih (O... ya)
Saya : (sambil berbisik dengan pier) Pier, De Radi nak pentas tanggal 17 peteng
ne. Engken ne Dek? (Pier, De Radi pentas tangal 17 malam, bagaimana ini?)
Pier : niki malih siki Pak Man, tanggal 17 De Radi ujian koreo ring kampus
sewon. (satu lagi Pak Man, tanggal 17 De Radi ujian koreo dikampus sewon)
Buk
Jro : Sami terlibat garapanne Radi? (Semua terlibat dalam garapannya
Radi?)
Pier : Nggih, Bli Duwik, Ardy, Tiang, Dek Wi ngedukung Radi. (Ya, kakak
Duwik, Ardy, Saya, Dek Wi mendukung Radi)
Pak
Man Cau : o... nggih... (O...ya...)
Mendengar
beberapa pemaparan tersebut, Pak Man Cau berkompromi dengan Buk Jro, mungkin
masalah jadwal latihan karena yang Saya dengar hanya kata nggih dan ten ngidang.
Pak
Man Cau : nggih... latihanne kanggoang malu ked jam mone, be peteng masih.
Latihan selanjutnya tanggal 13 seperti biase. (Ya... Latihannya sementara
sampai disini dulu, sudah malam. Latihan selanjtnya tanggal 13 seperti biasa
(jm 6 sore)).
Semuanya : nggih...
(ya...)
Berakhirnya
percakapan tersebut, kami berdiri dan segera membersihkan tempat latihan dengan
cara kita sendiri seperti ada yang menghabiskan makanan sisa, masih berbicara tentang
bagaimana alunan musik gamelan yang baru digarap, ada yang merapikan gambelan dan
ada pula yang menyapu lantai, ada yang membantu merancang kostum penari dan
bahkan mengacaukan kostum yang hendak digarap.
Terlihat
dalam video, yang menjadi model perancang busana adalah Kadek Sumiasih atau
kami biasanya memanggil Kadek Mongkeg, lulusan tahun 2015 S1 jurusan seni tari
di ISI Sewon Yogyakarta. Sedangkan perancang busana adalah Merina Rahayu atau
kami biasanya memanggil dengan sebutan Tuyin. Ia merupakan mahasiswa
Pascasarjana ISI Suryodininggratan Yogyakarta semester 1 jurusan Manajemen Tata
Kelola Seni (MTS). Mereka berdua memadukan ide untuk merancang pakaian ini. Dek
Mongkeg menggunakan tutup dada atau angkin, sarung atau kamen yang sementara
pada waktu itu menggunakan kamen latihannya, kain putih yang bertepikan prada
emas motif Bali, serta segulung kain emas bermotif yang dililitkan pada tubuh
model dari dada atas sampai pinggul. Perancangan kostum tari tersebut dilihat
oleh orang-orang yang masih berada disana.
Saat
mereka sibuk merancang, Dek Wi mengusili mereka berdua dengan cara ikut
melilitkan kain emas itu dengan sewenang-wenang. Walaupun berhasil mengacaukan
rancangan itu, namun mereka berdua tertawa melihat ulah usil Dek Wi. Tidak
adanya rasa marah, jengkel serta dendam kepada Dek Wi. Tingkah tersebut
merupakan salah satu tindakan komikasi dalam persahabatan mereka termasuk kami
semua. Secara tersirat, keusilan menjadi sebuah tidakan pokok dalam pertemanan,
namun tetap pada suatu batasan-batasan sesuai kewajaran.
Lain
halnya dengan dialog antara Pak Man Cau dengan Emon. Mereka masih mengingat
gending yang baru dituangkan. Dialog yang dilakukan sangat unik, seperti “jeng jereng jeng... jereng cek jereng...
jereng cek jereng...kapak kapak kapak kapak... jereng cek jereng...
negengengengeng jereng cek jereng... jereng cek jereng... negengengengeng
jereng cek jereng... jereng cek jereng...kapak kapak kapak kapak... jereng cek
jereng...”.
Angin
malam mulai masuk kedalam ruangan. Beberapa pendukung sudah mulai pulang.
Terlihat Desak, penari legong garapan ini meninggalkan asrama dengan terlebih
dahulu berpamitan kepada semua anggota yang masih berada dalam ruangan.
Desak : Bli... Bli semua, pulang duluan
nggih.
Semua : Nggih... yok...
Kejadian
tersebut segera saya dokumentasikan dalam bentuk foto serta rekaman tabuh
garapan tari Buk Jro ini. Kumpulan foto yang terdapat dalam video hanya
menggambarkan secara terperinci tentang proses latihan serta keakraban para
personil yang mendukung garapan ini. Sekitar pukul 21:37, Saya berpamitan
pulang kepada teman-teman serta para tetua diasrama untuk segera mengerjakan
tugas etnografi dari pak Prof. Y. Sumandyo Hadi.
Saya :
(saya berpamitan dengan teman-teman dan menyalami mereka) ayo... malunan mulih nah Dek. (ayo... pulang duluan ya)
Teman-teman : (saya berpamitan dengan teman-teman dan menyalami
mereka ada yang menjawab dengan kata ok, nggih,
adeng-adeng wi, yok)
Saya : (berpamitan dengan para tetua
diasrama sambil berdalaman)
Pak Man, tiang malunan mulih nggih. Wenten tugas. Hehehe... (Pak
Man, saya pulang duluan ya. Ada tugas. Hehehe...)
Pak
Man Cau : nggih Dek (ya Dek)
Saya : Gung Aji, tiang dumunan nggih, suksma Gung Aji. (Gung Aji, saya
duluan ya, terima kasih Gung Aji)
Gung
Aji : (Saya langsung menyalami
Gung Aji yang pada saat itu sedang merapikan gamelan)
o nggih... nggih... nggih Dek, mewali. (O... ya...
ya... ya Dek, kembali)
Saya : (Saya mendatangi Buk Jro yang
sedang berbicara dengan para penari yang masih berada di lokasi)
Buk Jro, tiang dumunan nggih, wenten tugas.
Buk
Jro : Nggih Dek...
Buk
Jro : Blin Dek be mulih ke Bali. (kakaknya Dek sudah pulang ke Bali)
Saya : ampun Buk Jro, ampun dibi peteng ne. Pas tiang latihan driki pun bli e
pun menek taksi ke bandara. Blie sing nyak ngorang pidan mulih ne. Mejalan
tiang mriki, mare ked di TamSis (Taman Siswa) teponne ajak blie orinne ngateh ke bandara. (sudah Buk Jro, sudah
kemaren malem. Saat Saya latihan disini itu kakak sudah berangkat ke bandara.
Kakak tidak memberitahu kapan pulang. Saat berangkat saya kesini, baru sampai
di TamSis (Taman Siswa)
Buk
Jro : o kenten.. nggih Dek, inget biin mani latihan nah Dek. (o...
begitu, ya Dek, Inge besok latihan ya Dek)
Saya : Inggih Buk Jro, yen kenten tiang mapamit nggih. (Ya Buk Jro. Kalau
begitu saya pulang ya)
Buk
Jro : Nggih Dek. Alon-alon. (Ya dek. Pelan-pelan)
Saya : Nggih, suksma Buk Jro (Ya... terima kasih Buk jro)
Buk
Jro : Mewali Dek. (kembali atau sama-sama)
Tepat
pukul 21:37 saya pulang dari asrama Bali ke kontrakan Saya di Kelurahan
Panggungharjdo, Dusun Sawit, RT 03, No. 206, Sewon, Bantul Yogyakarta, Indonesia.
Kesimpulam
Participation
observation dilakukan tidak hanya berpatok pada
hasil dari garapan ini, namun lebih kepada bagaimana proses latihan para
seniman Bali di Yogyakarta serta komunikasi yang seperti apa yang dilakukan
oleh seniman Bali saat berkumpul, baik itu hanya sekedar bertemu ataupun
membuat sebuah karya seperti halnya Buk Jro ini.
Proses yang terjadi saat itu sama
dengan proses yang bisanya dilakukan di Bali. Ada yang merokok, bersantai saat
komposer menuangkan ide, namun yang sangat disayangkan sekali adalah saat
proses latihan tersebut, baik para penabuh dan penari tidak ada yang memakai kamen dan udeng, hanya Dek Mongkeg saja yang memakai kamen atau sarung. Kamen dan udeng bisa disebut pakaian adat ringan
dalam menjalankan sebuah kegiatan yang sederhana, salah satunya kegiatan
latihan seni. Sensasi yang dialami menggunakan pakaian adat ringan saat latihan
berbeda dengan menggunakan pakaian biasa. Merasa menjiwai sebuah garapan,
apalagi garapan tersebut berbau seni khususnya seni Bali.


Komentar
Posting Komentar