wayang

WAYANG KULIT CENK BLONK: SEBAGAI MEDIA SUATU KEPENTINGAN
I Kadek Bhaswara Dwitiya, S.Sn

I.                   ABTRAK
Dalang yang menjadi patron dalam pertunjukan wayang mampu menghadirkan pertunjukannya sesuai dengan konteknya. Entah itu menjadi media pendidikan, media penyampaian pesan dan makna dari fenomena sosial, media ritual dalam upacara keagamaan, media representasi dari sebuah zaman, media kesehatan maupun media hiburan. Hal tersebut berdampak pada eksistensi dalang yang mempu mensinergikan pertunjukan wayang dengan kondisi masyarakat. Namun, dibalik kreativitas dan eksisitensi dalang terdapat sebuah keinginan yang secara implisit menggerakkan dalang untuk melakukan semua hal tersebut. dalang yang sudah memiliki modal budaya akan mencari modal-modal yang lain untuk terus menaiki tangga kesuksesan. Modal dalam hal ini penulis sebut sebagai kapital. Bagaiman dalang mendapatkan kapital dan menggunakannya baik kegiatan sehari-harinya maupun dalam pertunjukan wayangnya.

Keywords : dalang, pertunjukan wayang, kapital, masyarakat

II.                LATAR BELAKANG
Pertunjukan wayang kulit, khususnya pertunjukan wayang kulit peteng di Bali merupakan sebuah pertunjukan yang diadakan pada malam hari. Pertunjukan ini salah satu pertunjukan hiburan, di mana biasanya disajikan baik dalam acara keagamaan maupun komersil. Jika menyatakan bahwa pertunjukan ini merupakan sebuah pertunjukan hiburan, sudah tentu adanya ketertarikan serta minat yang membuat masyarakat terhibur. Masalah bukan hanya pada hasil yang dihadirkan oleh dalang ke dalam sebuah media seni pertunjukan wayang. Bagaimana karya seni tersebut hadir dengan segala komponennya? Bagaimana seniman terbentuk dari struktur-struktur yang membentuknya, sehingga terwujudnya karya seni yang menjadi ciri khas wayang tersebut. Dalang memberikan wejangan namun dikemas secara bayolan. Siapa yang mempengaruhi? Bagaimana dari segi penonton? Apakah penonton menelan mentah-mentah lawakan tersebut, atau mengupas kembali lawakan yang disuguhkan oleh dalang? Apakah ini yang menjadikan dalang beserta gaya pertunjukannya eksis sampai sekarang? Namun penelitian ini lebih kepada pandangan kritis penulis terhadap lahirkan sebuah karya seni pewayangan. Penulis akan menganalisis baik dari komponen-komponen yang dihadirkan dalang serta pengaruhnya terhadap masyarakat maupun dalang itu sendiri. Sehingga kehadiran sebuah pertunjukan wayang tersebut diminati oleh masyarakat dan tetap eksis sampai sekarang. Masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat dari golongan atas (pejabat, pemerintah, dll), menengah (seniman, karyawan, budayawan, dll)  dan bawah (petani, nelayan, buruh, dll). Pertanyaan tersebut penting bagi ilmu pedalangan tentang persepsi, gejala serta bagaimana masyarakat menerima pertunjukan wayang, belum dapat diterjemahkan.
Penulis bertumpu pada 4 komponen yang mempunyai peran penting dalam merumuskan serta membatasi permasalahan dan pembahasan yaitu pertama pengetahuan dan pengalaman dalang menjadi suatu budaya atau pola pemikiran praktek dalam suatu pertunjukan wayang. Kedua, dalang yang menjadi patron dalam pertunjukan wayang mampu mengomposisi ilmu yang telah didapat dan dipelajarinya, sehingga mampu menghadirkan pertunjukan yang kreatif. Bukan hanya itu, dalang dalam mempertunjukan wayang mempunyai suatu kepentingan, baik itu kepentingan dari diri sendiri, orang lain bahkan kepentingan acara yang dihadirinya. Ketiga, kehadiran adanya pertunjukan wayang itu sendiri. Pertunjukan wayang menjadi hasil dari pengetahuan serta pengomposisian olah kreativitas dalang. Dalam pertunjukan akan dapat diketahui perbedaan atau ciri khas dari dalang yang satu dengan yang lainnya. Keempat, khalayak atau penonton yang menjadi acuan bagi dalang untuk menentukan pertunjukannya diminati. Penonton akan memberikan sumbangsih berupa kritik terhadap pertunjukan wayang baik. Menurut penulis, adanya saling mengisi kekurangan antara penonton atau penikmat seni dengan dalang. Hal inilah dalah satu yang dimaksud penulis bahwa dalang mendapatkan pengetahuan dari pengalamannya.
Penelitian ini tidak menyalahkan ataupun mempengaruhi penilaian akan baik dan buruknya seniman maupun karyanya, sehingga masalah-masalah etika tentang penciptaan karya seni pertunjukan, khususnya pertunjukan wayang di Bali. Menjembatani antara individu dengan karya seni menjadi harapan penulis. Penelititan sebelumnya masih menbicarakan tentang bagaimana pertunjukan wayang berkontribusi dalam pendidikan, kebudayaan serta pengangkatan kasus sosial yang berada dilingkungan sekitar. Tidak dipungkiri juga bahwa artikel-artikel serta penelitian tersebut akan dijadikan penulis sebagai pendukung tesis dalam memahami lebih jelas dan terperinci tentang pertunjukan wayang kulit Bali.
Fenomena ini coba diangkat oleh penulis dengan obyek pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk (WKCB) yang mengapa hal ini bisa terjadi. Dalang yang tetap memberikan wejangan namun dibalut dengan lawakan, namun bagaimana dari kacamata penonton. Apakah penonton menelan mentah-mentah lawakan tersebut, atau mengupas kembali lawakan yang disuguhkan oleh dalang? Apakah ini yang menjadikan Dalang Cenk Blonk eksis sampai sekarang? Masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat dari golongan atas, menengah dan bawah. Pertanyaan tersebut penting bagi ilmu pedalangan tentang persepsi, gejala serta bagaimana masyarakat menerima pertunjukan wayang, belum dapat diterjemahkan.
Penulis tetap membatasi wilayah pembatasan penelitian, sehingga pembahasan tidak meluas. Jika pembahasan penelitian meluas, maka pokok pembahasan menjadi kabur dan pokok pembahasan tidak menukik pada apa yang diinginkan penulis. Penulis akan membahas tentang struktur yang membentuk seniman serta faktor yang mempengaruhi lahirnya sebuah karya seni dengan judul penelitian “Wayang Kulit Cenk Blonk: Sebagai Media Suatu Kepentingan”.
Penelitian ini tidak menyalahkan ataupun mempengaruhi penilaian akan baik dan buruknya seniamn maupun karyanya, sehingga masalah-masalah etika tentang penciptaan karya seni pertunjukan, khususnya pertunjukan wayang di Bali. Menjembatani antara individu dengan karya seni serta menjelaskan perilaku tersebut ke dalam sebuah grand theory, menjadi harapan penulis. Adapun artikel serta penelitian awal tentang obyek WKCB ini akan dijadikan penulis sebagai pendukung tesis dalam memahami lebih jelas dan terperinci tentang obyek WKCB. Peneliti merumuskan beberapa pertanyaan masalah yang akan diteliti lebih mendalam tentang persepsi, gejala serta proses yang dihadapi dalang maupun masyarakat Bali. Terdapat 2 pertanyaan yang saat ini menjadi masalah yang penting bagi penulis yaitu bagaimana pertunjukan wayang diminati oleh masyarakat? serta apa saja faktor yang mendukung terbentuknya pertunjukan wayang saat ini?
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang coba akan dibahas serta arti pentingnya penelitian ini, penulis mempunyai tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui proses yang dilalui dalang sehingga mampu menghadirkan pertunjukannya ditengah-tengah masyarkat. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan pertunjukan WKCB hadir dan mampu menarik minat masyarakat Bali. Untuk mengetahui hubungan aspek-aspek sosiologis yang melatarbelakangi dalang menhadirkan pertunjukan tersebut. Kekosongan terlihat pada dalang yang menggunakan media wayang untuk suatu kepentingan mendapatkan keuntungan. Kekosongan ada pada kolom dengan garis putus-putus. Berikut visualisasi penulis terhadap pertunjukan wayang yang menurut penulis masih terkungkung dengan romantismenya, sehingga penulis mencoba untuk berikap kritis terhadap pertunjukan wayang.


Pertunjukan wayang
Media penyampaian pesan dan makna dari fenomena sosial
Media representasi obyek yang telah punah
Media kesehatan
Media hiburan
Media ritual dalam upacara keagamaan

Media pendapatan keuntungan dalang
Media pendidikan
 









III.             PEMBAHASAN
Memulai dari pertanyaan penelitian tentang bagaimana dalang menggunakan dan mengomposisikan ilmu yang didapat serta pertunjukan wayang yang diminati oleh masyarakat. Penulis menemukan bahwa dalang tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tentang pewayangan, namun dalang pada saat menonton pertunjukan wayang dalang lain juga memperhatikan penonton. Bagaimana ekspresi serta cara penonton tersebut memperhatikan sebuah pertunjukan wayang. Hal tersebut penulis akan menghubungkan dengan adegan pertunjukan wayang yang menjadi perhatian khusus dalam pertunjukan wayang. Dalam prakteknya, dalang yang mengamati penonton serta adegan tersebut akan segera mengambil kesimpulan bahwa adegan inilah yang masyarakat sekarang inginkan. Keinginan ini juga terjadi bukan hanya dari kemauan dalang, namun juga dari pihak pemerintah kebudayaan daerah. Bidang kebudayaan menyarankan kepada para dalang harus belajar lebih kreatif saat melakukan pertunjukan wayang.
Adapun data yang penulis temukan di beberapa jurnal elektronik tentang orientasi terhadap masyarakat serta pementasan WKCB. Wayang Kulit Cenk Blonk (WKCB) merupakan sebuah pertunjukan wayang Kulit yang didalangi oleh I Wayan Nardayana. I Wayan Nardayana atau yang sering disebut Dalang Cenk Blonk oleh masyarakat merupakan dalang dari Banjar Batan Nyuh, Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Ia lulusan S1 jurusan Seni Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ia melanjutkan kuliahnya S2 jurusan Filsafat Hindu dan sekarang masih mengenyam pendidikan S3 di Institut Hindu Dharma (IHD) (Informasi kepada Ayu Sulistyowati dalam Kompas.com).
I Wayan Nardayana mempunyai sanggar Gitaloka. Sanggar ini dibentuk oleh dalang Nardayana pada tahun 1995 kemudain berganti nama menjadi Cenk Blonk. Nama Cenk Blonk sering dibicarakan oleh penonton setelah selesai menonton. Maka dari itu, Nardayana mengganti nama wayangnya menjadi Wayang Ceng Blong pada tahun 2013 serta mengganti huruf “g” pada akhir kata Ceng dan Blong dengan huruf “k” menjadi Cenk Blonk agar terlihat keren dan bermasyarakat (wawancara Asti Musman dengan Dalang I Wayan Nardayana pada tanggal 8 November 2009).
Wawancara Putu Fajar Acana dengan I Wayan Nardayana yang dimuat dalam media elektronik pada hari Senin, 2 September 2013 Kompas Cetak menerangkan bahwa, beberapa komponen pendukung pertunjukan wayang terdiri dari kelir yang biasanya berukuran 2.5 x 1 meter diperbesar menjadi 6 x 1,5 meter. Ia masih menggunakan blencong atau api sebagai refleksi bayangan wayang, namun dipasang 1 meter di atas kepala dalang. Refleksi bayangan lebih pada penggunaan lampu pijar berwarna-warni di kedua sudut atas kelir dan di atas kepala dalang. Instrumen musik yang digunakan terdiri dari 2 buah kendang krumpung atau kendang bebatelan, 1 buah kemplug, 1 buah klenang, 1 buah kecek, 2 buah gong (lanang-wadon), 1 buah kempur, 1 buah klenang, 1 buah tawa-tawa, 4 buah gangsa, 2 buah jublag, 2 buah jegog, 1 buah suling kecil, serta 3 orang juru gerong (sinden perempuan) dan seorang juru tandak (seinden laki-laki). Lebih lanjut dalam wawancaranya, dalam upacara yadnya atau upacara keagamaan umat Hindu, bagi penanggap yang berada di dalam kota dan ingin melihat pertunjukannya secara langsung maka, dana yang dikeluarkan adalah 14 juta. Jika penanggap dari luar kota akan dikenakan biaya sebesar 15 juta. Biaya tersebut sudah diperhitungkan terlebih dahulu oleh dalang, mengingat anggota sekaa atau anggota dalam mempersiapkan dan mempertunjukkan wayang ini berjumlah 50 orang.
Pada hari Jumat, tanggal 22 Mei 2015, WKCB pentas dalam rangka memperingati ulang tahun ke-58 Kodam IX/ Udayana. Tema yang diangkat adalah “Senantiasa Mencintai dan Dicintai Rakyat”. Pementasannya di Lapangan Puputan, Denpasar, Bali. Sebelum pertunjukan WKCB dimulai, sejak pukul 19.00 Wita sudah dipertunjukkan Bleganjur dan Joged Bungbung. Menurut Tribun-Bali.com, pertunjukan Bleganjur dan Joged Bungbung merupakan bagian dari acara Kodam untuk menarik masyarakat mendekat ke tempat pertunjukan wayang. Pada akhir acara Dalang Cenk Blonk mendapatkan penghargaan dari Pangdam IX Udayana dan Mayjen TNI Torry Djohar Banguntoro (Eviera Paramita Sandi, Tribun Bali, Sabtu, 23 Mei 2015, 00:41).
Sabtu tanggal 8 Desember 2007, Dialog interaktif melalui Pagelaran WKCB yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong Konferensi Internasional Perubahan Iklim dan Tahun Kunjungan Wisata tahun 2008, dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir Jero Wacik, SE. di Lapangan Puputan Badung Denpasar. Dialog interaktif ini terselenggara atas kerjasama Departemen Komunikasi dan Informatika dengan Pemerintah Provinsi Bali, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat atas berbagai produk kebijakan pemerintah di bidang Politik, Hukum, Kemananan, Perekonomian, dan Kesejahteraan Rakyat, sehingga dengan makin bertambahnya tingkat pemahaman yang dimiliki, diharapkan masyarakat mampu berpartisipasi dalam setiap pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah. Lakon Gugurnya Patih Prahasta dibawakan dalang Wayan Nardayana, disiarkan secara langsung melalui RRI Denpasar dan RRI Singaraja ini menampilkan narasumber Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik, SE, dan Kepala Bappeda Provinsi Bali Drs Made Adi Jaya, AK.
Acara yang digelaran Pemerintah Kota Denpasar bersama RPKD, 91.45 FM bekerjasama dengan KPN Dharma Wiguna Kota Denpasar pada hari Selasa, 26 Februairi 2008 pukul 20.00 wita, mempersembahkan pertunjukan WKCB di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali. Pada saat itu terlihat Walikota Denpasar Drs. A. A Puspayoga (sekarang menjadi Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia) yang didampingi Sekda Kota Denpasar Drs. Nyoman Aryana, M.Si (Pemerintah Kota Denpasar, Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Denpasar, Radio Publik Kota Denpasar (RPKD), 26 Februari 2008).
Badan Narkotika Nasional  Provinsi (BNNP)  Bali menggelar sosialisasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui pagelaran pementasan  WKCB  bertempat di Aula IKIP (Institut keguruan dan ilmu pendidikan) PGRI Bali, Jumat(19/7). Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali, Drs. I Gusti Bagus Arthanegara,SH, MPd, Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I MADE Suarta, SH, M.Hum dan para undangan yaitu Dosen di lingkungan kampus  IKIP PGRI Bali serta penonton pagelaran seni budaya WKCB yang sebagian besar adalah mahasiswa (Situs resmi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Selasa, 23 Juli 2013 jam 13:39:19).
Sosialisasi dari Pemerintah Kabupaten Badung untuk KTT ASEAN ke-19 dan KTT Asia Timut pada 16-19 November 2011 di Nusa Dua, Bali, mempertunjukan WKCB pada Sabtu malam 5 November 2011 di Lapangan Purna Krida Kerobokan Kecamatan Kuta Utara. Pertunjukan tersebut mengusung tema ”Mewujudkan Komunikasi ASEAN 2015” yang tujuannya mengoptimalkan kesadaran, minat masyarakat dan pemberitaan media mengenai KTT ASEAN ke-19 serta diharapkan masyarakat Bali akan lebih memahami akan keberadaan even-even internasional dan ikut bersama-sama mensukseskannya. Dengan begitu, dunia internasional akan melihat dan menilai bahwa masyarakat Bali atau Indonesia mampu sukses menyelenggarakan kegiatan berskala dunia (Priatna, detikNews, Selasa 8 November 2011, 00:05 Wib).
Sosialisasi tentang kesiapan Indonesia sebagai ketua dan tuan rumah APEC 2013 melalui pertunjukan WKCB pada Hari/ Tanggal : Sabtu, 14 Juli 2012 Waktu : 19:00 WITA s/d selesai Tempat : Lapangan Puputan Badung Jl. Udayana, Denpasar. Mengusung tema “Sukseskan Indonesian Sebagai Ketua dan Tuan Rumah APEC Tahun 2013”, yang bertunjuakn utnuk memberikan Informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang APEC. Mensosialisasikan peran Indonesia sebagai ketua dan tuan rumah APEC 2013. Menumbuhkan kesadaran dan kesiapan masyarakat Bali sebagai tuan rumah penyelenggaraan KTT APEC ke-21 tahun 2013. Bukan hanya itu, Bentuk kegiatan pagelaran WKCB yang disertai dialog interaktif dengan narasumber : Freddy H. Tulung, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkoninfo RI IB Rai Dharmawijaya, Walikota Denpasar Antro Suryodipuro, Direktur Kerja Sama Intra Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementrian Luar Negeri. Suryo Bambang Sulisto, Ketua Kadin Indonesia. Kegiatan ini akan disiarkan langsung oleh RRI Bali dan siaran tunda oleh Dewata TV.
Pementasan WKCB sebagai media Sosialisasi Penempatan dan Perlindungan TKI Formal Provinsi Bali yang bertemakan Sangut Mencari Kerja di Luar Negeri di panggung Art Center, Denpasar. Sang dalang juga mengajak Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat, Kepala BP3TKI Denpasar I Wayan Pageh, dan Asisten I Gubernur Bali Wayan Suasa masuk dalam dialog interaktif. (Muhammad saifullah, Okezone, Senin, 4 Maret 2013, 00:53). Bukan hanya itu, Dalang Cenk Blonk pernah terlihat di televisi siaran Bali dalam kepentingan AIDS, KPI, KPU, BNNP, Tolak Angin. Serta Aneka Record sebagai sponsor yang mencetak VCD pertunjukan WKCB, diantaranya Katundung Ngada, Ludra Murti, Bimaniyu Makrangkeng, Gatotkaca Duta, Lata Mahosadhi, Tebu Sala, Suryawati Ilang, Setubandha Punggél (Sura Bhuta Gugur), Sutha Amerih Bapa, Anoman ke Suargan, Gatotkaca Anggugah (Gatotkaca Menggugat).
Mengingat kesempatan Dalang Cenk Blonk di atas, adapula pandangan dari salah seorang penulis dalam nama artikelnya yang bernama Kanduk Supatra, mengungkapkan bahwa masyarakat yang menonton pertunjukan WKCB tidak mampu membedakan tokoh Ramayana dan tokoh Mahabharata, tidak mengetahui dengan jelas alur cerita yang dibawakan, mendengar kritikan tajam dari dalang. Menurut pandangannya saat mencoba menggali informasi dan menanyakan mengenai wayang, penonton mendengarkan lawakan dari tokoh Cenk dan Blonk serta mereka tertarik dengan pola pertempuran (siat) yang rame dalam pertunjukan wayang.
Bukannya tanpa alasan Kanduk Supatra mengungkapkan hal tersebut. Penulis mencoba menelusuri video yang diunggah oleh para penonton WKCB di situs youtube dan ternyata banyak penggalan video lucu atau video lawakan dari tokoh wayang Cenk dan Blonk. Video yang diunggah bukan hanya tokoh Cenk dan Blonk, namun tokoh-tokoh rakyat atau punakawan seperti Twalen, Werdah, Delem dan Sangut juga terdapat dalam penggalan video tersebut. Beberapa video tersebut menampilkan lawakan yang dibawakan oleh Dalang Cenk Blonk.
Selain itu, ada beberapa inovasi pertunjukan wayang yang pernah digunakan oleh dalang senior seperti Ki Mantep, Ki Anom Soroto dan Ki Seno Nugroho. Inovasi dalam pertunjukan wayang yang dipakai untuk menarik perhatian masyarakat seperti wayang yang diberi paku untuk menancapkan wayang pada kelir, sehingga wayang terlihat terbang. Wayang diisi pewarna merah saat wayang sedang berperang, sehingga telihat wayang mengeluarkan darah dari tubuhnya. Menggunakan lampu berwarna-warni, menggunakan gun smoke, menggunakan instrumen elektronik keyboard sebagai efek suara dalam adegan pertunjukan wayang, menggunakan wayang golek dalam pertunjukan wayang kulit, serta laras yang digunakan bukan lagi pelog slendro namun sudah memakai tangga nada diatonis.
Khalayak sangat berpengaruh terhadap perkembangan pertunjukan wayang, khususnya pertunjukan wayang kulit Bali. Pertunjukan wayang kulit di Bali masih berkaitan dengan upacara keagamaan, karena tontonan wayang mempunyai tuntunan di dalamnya. Pertunjukan wayang sebagai mediasi refleksi masyarakat dari keterpurukan (Dunbar-Hall dan Peter, 2007). Penyegaran bathin terhadap masyarakat yang menonotn menjadi acuan dalang untuk menggali lebih dalam apa yang diinginkan masyarakat. Mengangkat kejadian dalam masyarakat menjadikan pertunjukan wayang juga digermari. Pertunjukan yang mempunya struktur alur cerita layaknya teater, menyimpan suatu makna tentang tatanan sosial (Lee, 2013). Dalam hal ini adanya pola sebab-akibat yang ditimbulkan dari dalang-masyarakat dan masyarakat-dalang dengan patron pada pertunjukan wayang kulit.
Menarik minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang merupakan salah satu strategi dalang untuk tetap eksis dalam arena pertunjukan wayang. Apalagi bagi para dalang muda yang lebih mementingkan jeneng dari pada jenang. Memilih jeneng bukannya tanpa alasan. Penulis menemukan fenomena bahwa mulai dari jeneng ini para dalang muda akan meraih jenang atau kesuksesan, baik secara material maupun non-material. Jika penulis urutkan pengalaman dari wawancara dengan Mas Ricyansyah dan Pak Aneng, penulis menemukan sebuah keinginan secara implisit.
Dalang muda berusaha untuk mempelajari ilmu, baik itu menjadi dalang, menjadi penabuh, menjadi penonoton yang mengamati penonton serta mendukung sebuah garapan wayang. Pengetahuan yang didapat tersebut akan dikomposisikan lagi menjadi satu-kesatuan wujud pertunjukan wayang. Terlihat dari bagaimana Ricyansyah mampu mengkomposisi musik iringan wayang dalam pertunjukan wayangnya. Bakat yang dituangkan tersebut juga memberikan dampak bagi eksistensi dirinya sendiri. Dalang muda yang mempunyai potensi dalam beberapa hal akan mendapatkan jam terbang yang lebih banyak. Hubungan antara ilmu, pengalaman, dalang, pertunjukan, serta masyarakat sangatlah kompeks.
Bukan tidak mungkin bahwa dalang menggunakan media wayang untuk mendapatkan materi, penulis bisa katakan bahwa materi tersebut adalah uang. Penelitian tentang wayang masih berkedok tentang media ritual, media kesehatan, media pendidikan, media hiburan, media representasi obyek yang sudah punah (dinosaurus) serta media penyampaian pesan dan makna dari fenomena sosial. Nmaun, mengapa dalang ingin melakukan hal tersebut? Bersusah payah mendalami ilmu wayang, menciptakan inovasi serta mengkomposisi segalanya untuk pertunjukan wayang. Alhasil penulis menemukan adanya sesuatu yang implisit tentang dalang menggunakan media wayang untuk mendapatkan keuntungan dan modal berupa ekonomi, budaya, sosial dan simbolik.
Dunia pertunjukan khususnya pertunjukan wayang membutuhkan modal dalam arena. Tidak dipungkiri bahwa kapital budaya merupakan sebuah modal yang utama yang harus dimiliki oleh seorang dalang. Mendalami dan mengamati keinginan masyarakat merupakan salah satu distinction dalam meraih eksistensi dalam dunia pertunjukan wayang kulit. Distinction atau yang bourdeou sebut sebagai cara untuk membedakan diri coba diterapkan oleh pertunjukan WKCB seperti penggunaan lampu berwarna-warni, menggunakan pesinden, penggunaan penggerong dan penggunaan keyboard. Semakin besar kapital yang diperlihatkan, semakin besar pula peluang untuk menaiki tangga sosail (Fashi, 2007:59).
 Lebih lanjut Fahri menegaskan bahwa distinction berkaitan dengan selera dan ranah yang dikondisikan menurut masyarakat. Pertunjukan WKCB bertumpu pada selera masyarakat. Menurut Bourdeou, selera seseorang dapat berubah-ubah sesuai dengan ranah (field), ketentuan atau sudah adanya kompromi secara terseirat dari kelas dominasi atau bisa dikatakan. Bukan hanya itu, selera bukan hanya masalah individu memilih dan menentukan selera terhadap obyek budaya, namun juga mempu menciptakan apa yang akan diciptakan produsen untuk memuaskan hasrat konsumen.
Hal tersebut terjadi dalam pertunjukan WKCB, pertunjukan yang penulis indikasikan sebagai hasil dari selera masyarakat. Jika WKCB merupakan hasil dari selera masyarakat, maka penulis bisa katakan bahwa dalang di balik wayang menyimpan suatu kepentingan. Baik itu kepentingan material maupun non-material. Menurut penulis, dalang Nardayana sebagai dalang dari WKCB cukup mempunyai dan mengomposisikan kapital yang dimiliki sampai terwujud pertunjukan sampai sekarang ini.
Dihadirkan kehadapan
Pengetahuan dituangkan ke dalam media
Mendalami selera masyarakat
Memperoleh prestise
Dalang
masyarakat
Pertunjukan WKCB
 







Visualisasi di atas meggambarkan bahwa bagaimana dalang dengan pengatahuannya baik pengetahuan dalam ilmu pedalangan maupun mendalami selera masyarakat, mampu menghadirkan pertunjukan wayang yang mampu menarik minat masyarakat seperti fenomena awal. Dalang yang sudah mampu untuk menghadirkan sebuah karya seni tersebut dan mampu diminati oleh masyarakat, maka secara tidak langsung akan mendapatkan prestise dari masyarakat.
(Habitus x Modal) + Ranah = Praktik
Lebih lanjut, Bourdeou membuat rumus, bagaiman praktik itu bekerja. Buku yang ditulis olhe Fashri yang berjudul Pierre Bourdeou: Menyingkap Kuasa Simbol, terdapat rumus:

Bagaimana habitus yang diperoleh dalang mampu dikondisikan dengan modal yang dipunyai dan digunakan pada arena pertarungannya, sehingga menghasilkan sebuah praktek pertunjukan wayang mampu mendominasi dari pertunjukan wayang yang lainnya. Penulis tidak serta-merta menyatakan bahwa habitus dari dalang Nardayana sebagai hal terpenting dalam membentuk dirinya, tapi tetap tidak dipungkiri bahwa habitus merupakan salah satu hal yang menjadikan Nardayana begitu mencintai wayang.
Beranjak dari kehidupan masyarakat Bali yang tidak terlepas dari seni dan religi, penulis menganggap bahwa masyarakat Bali sejak kecil sudah mengenal bagaimana seni Bali hidup dan berperan penting dalam setiap upacara keagamaan di Bali. (Yudabakti, Watra, 2007: 3). Begitu juga yang terjadi pada dalang Nardayana yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan seniman. Walaupun dalam lingkungan seniman patung/undagi, namun Ia tetap mencintai wayang. terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan oleh Urip Adi Prabawa pada hari Selasa 4 Februari 2014 yang lebih menekankan bahwa kecintaan Nardayana terhadap wayang sejak kecil. Pernah menjadi tukang parkir pada sebuah super market tahun 1991, tukang ukir/undagi, gaya Bali tahun 1992, merangkap menjadi seniman topeng pada tahun yang dama dan menjadi dalang dalam pertunjukan wayang sampai sekarang. Kecintaan yang dalam terhadap dalang membawanya kuliah S1 di ISI Denpasar tahun 2004 dan telah menyelesaikan S2 di IHDN tahun 2007. Habitus tersebut membawanya ke dunia wayang dan menekuninya. Menurut penulis, ini juga salah satu distinction dalang untuk mengokohkan dirinya mengetahui wayang baik dari praktek maupun ilmu pengetahuannya. Title yang diperoleh merupakan salah satu simbol dari legitimasi kekuasannya dalam bidang pewayangan Bali.

IV.             KESIMPULAN
Kecerdikan seorang dalang dalam mengkomposisikan ilmu yang didapat baik dari jenjang akademis maupun lingkungan serta beberapa trik gerakan wayang yang oleh masyarakat dianggap merupakan suguhan baru, menjadikan pertunjukan wayang yang diminati oleh masyarakat. Peran teknologi yang masuk kedalam pertunjukan wayang menjadi juga menjadi sebuah ketertarikan tersendiri baik dari diri dalang maupun masyarakat. Pertunjukan wayang yang diminati akan memberikan dampak pada dalang sendiri, bahwa dalang tidak hanya mendapatkan jeneng namun juga akan mendapatkan jenang, baik secara material maupun non-material.
Penulis mengindikasikan bahwa jenang yang dimaksud bukan hanya sekedar upah, namun sebuah prestise yang sifatnya mampu menenjukkan bahwa dalang tersebut mampu mendominasi pertunjukan wayang. Dominasi yang terlihat pada pertunjukan WKCB tersebut berupa pertunjukan wayang dengan acara besar, mampu memproduksi rekaman CD sebanyak 12 buah, banyak beredar potongan lelucon WKCB yang diunggah ke situs youtube, serta pengalaman penulis saat masih berada di Bali dengan masyarakat yang selalu mengharapkan dalang muda untuk menjadi seperti dalang Cenk Blonk (sebutan dalang Nardayana dalam pandangan masyarakat). Berusahan untuk membedakan pertunjukan wayang sendiri dengan pertunjukan wayang yang lain serta selalu memproduksi baik ide maupun produk akan menjaga stabilitas dominasi dari sang dalang.

V.                DAFTAR PUSTAKA
Belfiore, Christie. 2013. “Puppets Talk, Children Listen. How Puppers are Effective Teaching Aids for Kids”. Dalam Teach Journal. Toronto, Ontario Ltd. DBA Teach Magazine, Canada.
Bonowoari, Lintang Yuniar. 2013. “Design Concept Of Augmented Reality Application With Glasses For Indonesia Wayang Museum”. Dalam International Journal of Advances in Engineering & Technology. Depok, Gunadarma University, Indonesia.
Creswell, John W. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset: Memilih di antara Lima Pendekatan (Edisi ke-3). Celeban timur, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Dunbar-Hall, Peter. 2007. “"Apa Salah Baliku?" ("What Did My Bali Do Wrong?"): Popular Music and the 2002 Bali Bombings”. Dalam Popular Music and Society. Francis, Bowling Green, United Kingdom.
Dunst, Carl J. 2012. “Effects of Puppetry on Elementary Students' Knowledge of and Attitudes Toward Individuals with Disabilities”. Dalam International Electronic Journal of Elementary Education. Kutahya, International Electronic Journal of Elementary Education, Turkey.
Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Depok, PT Kanisius, Yogyakarta, Indonesia.
Lee, Changnam. 2013. “The Ghost-Image on Metopolitan Borders-In Term of Phantom of The Opera and 19th-Century Metropolis Paris”. Dalam Societies Journal. Seoul, Hanyang University, Korea.
Mrazek, Jan. 1999. “Javanese wayang kulit in the times of comedy: Clown scenes, innovation, and the performance's being in the present world”. Dalam Indonesia Journal. Ithaca, Cornell Southaest Asia Program, United States.
Nadison, Maya. 2012. “Effective Art”. Dalam Baltimore Jewish Times. Baltimore,  Baltimore Jewish, United States.
O’Keefe, Ann. 2011. “Science: Our Class Pet: A Dinosaurus?”. Dalam School Library Monthly. Santa Barbara, Libraries Unlimited, Inc. United States.
Rosman, Katherine. 2010. “Art and Entertainment: The Goofiest of Garage Bands With Its Fuzzy Puppets and Clever Tunes, A Duo AimFor Children’s Music Stardom”. Dalam Wall Street Journal. Brooklyn, Wall Street Journal, New York.

Komentar

Postingan Populer